Loading
Arsip foto Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,46 persen atau turun 83 poin ke posisi Rp18.049 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.966 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati. Kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memicu penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan investor masih mencermati perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.
Menurutnya, perhatian pasar tertuju pada pengumuman Washington mengenai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Namun, implementasi kesepakatan tersebut masih bergantung pada penghentian aksi permusuhan oleh Hizbullah sehingga belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran investor.
Selain itu, ketegangan meningkat setelah muncul laporan mengenai serangan rudal Iran ke wilayah Kuwait dan Bahrain. Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm di Iran yang berada dekat Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Di saat yang sama, Israel disebut memperluas operasi militernya di Lebanon bagian selatan dengan menyasar wilayah yang menjadi basis Hizbullah.
Dari Amerika Serikat, pasar juga mencermati dinamika politik terkait kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump. Dewan Perwakilan Rakyat AS yang dikuasai Partai Republik telah menyetujui resolusi untuk membatasi langkah presiden dalam melanjutkan konflik militer dengan Iran. Namun, kebijakan tersebut masih harus mendapatkan persetujuan Senat sebelum dapat diberlakukan.
Pelaku pasar global juga memilih menunggu rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya laporan non-farm payrolls yang akan diumumkan pada Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dan pergerakan dolar AS.
Sementara itu, dari dalam negeri, pasar mulai mengkhawatirkan dampak kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap kondisi fiskal Indonesia. Harga minyak yang terus tinggi berpotensi meningkatkan beban subsidi energi, memperlebar defisit fiskal, serta menekan neraca transaksi berjalan.
Kekhawatiran lainnya datang dari kemungkinan meningkatnya intervensi pemerintah di sektor komoditas dan belum adanya kepastian terkait status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI. Faktor-faktor tersebut dinilai turut memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan nasional dikutip Antara.
Data perdagangan Indonesia pada April 2026 juga menunjukkan surplus neraca perdagangan mulai menyusut. Kondisi ini dipicu kenaikan impor minyak yang tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor.
Di sisi lain, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat mencapai 3,08 persen atau berada di atas titik tengah target Bank Indonesia. Kenaikan harga barang impor menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi lebih tinggi.
Sentimen tambahan datang dari hasil pemeringkatan PT Danantara Investment Management oleh Moody’s Ratings. Lembaga pemeringkat internasional tersebut memberikan peringkat Baa2 untuk program global medium-term note yang akan diterbitkan perusahaan tersebut.
Meski demikian, Moody’s menetapkan outlook negatif terhadap peringkat tersebut. Penilaian itu didasarkan pada keterkaitan yang kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham penuh.
Ibrahim menjelaskan bahwa dalam jangka panjang, peringkat Danantara berpotensi bergerak sejalan dengan peringkat utang negara Indonesia. Jika peringkat sovereign Indonesia mengalami penurunan, maka peringkat Danantara juga berpeluang ikut terkoreksi.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif. Meski demikian, mata uang Indonesia berpotensi kembali melemah dan bergerak dalam kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.