Loading
Diet Mediterania Terbukti Turunkan Risiko Stroke hingga 25 Persen. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pola makan Mediterania kembali menunjukkan manfaat besarnya bagi kesehatan. Sebuah studi jangka panjang menemukan bahwa diet yang kaya minyak zaitun, kacang-kacangan, ikan, biji-bijian utuh, dan sayuran mampu menurunkan risiko stroke hingga 25 persen.
Temuan ini berasal dari penelitian besar yang berlangsung selama lebih dari dua dekade dan diterbitkan dalam jurnal Neurology Open Access milik American Academy of Neurology. Penelitian tersebut menyoroti hubungan antara kepatuhan terhadap diet Mediterania dengan penurunan risiko berbagai jenis stroke, baik iskemik maupun hemoragik.
Selama ini, diet Mediterania telah dikenal luas karena manfaatnya dalam menurunkan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik. Namun, bukti ilmiah yang secara khusus menilai dampaknya terhadap seluruh jenis stroke masih relatif terbatas. Studi terbaru ini menjadi salah satu yang terbesar dan terpanjang dalam mengisi celah tersebut.
Penelitian ini, dilansir The Guardian, melibatkan 105.614 perempuan di California dengan usia rata-rata 53 tahun saat studi dimulai. Seluruh peserta tidak memiliki riwayat stroke sebelumnya. Mereka dipantau selama rata-rata 21 tahun untuk melihat keterkaitan antara pola makan dan kejadian stroke.
Para peneliti memberi skor kepatuhan diet Mediterania dari nol hingga sembilan. Skor diberikan berdasarkan konsumsi tinggi makanan seperti gandum utuh, buah, sayur, kacang-kacangan, ikan, minyak zaitun, serta konsumsi alkohol dalam jumlah sedang. Sebaliknya, skor juga dipengaruhi oleh rendahnya konsumsi daging merah dan produk susu.
Sekitar 30 persen peserta berada di kelompok dengan skor tertinggi, sementara 13 persen lainnya masuk kelompok terendah. Setelah memperhitungkan faktor risiko lain seperti merokok, aktivitas fisik, dan tekanan darah tinggi, hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Kelompok dengan kepatuhan diet tertinggi tercatat memiliki risiko stroke 18 persen lebih rendah dibanding kelompok terendah. Risiko stroke iskemik turun 16 persen, sementara stroke hemoragik—jenis stroke yang lebih jarang namun lebih mematikan—menurun hingga 25 persen.
Stroke iskemik terjadi akibat tersumbatnya aliran darah ke otak dan merupakan tipe yang paling umum. Sementara stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak dan sering berujung pada kondisi yang lebih berat.
Penulis utama studi, Sophia Wang dari City of Hope Comprehensive Cancer Centre di California, menyatakan bahwa temuan ini memperkuat bukti pentingnya pola makan sehat dalam pencegahan stroke. Ia juga menekankan bahwa dampak diet Mediterania terhadap stroke hemoragik menjadi temuan menarik karena jenis stroke ini jarang dikaji dalam penelitian berskala besar.
Meski demikian, penelitian ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Selain itu, studi hanya melibatkan perempuan dan data pola makan diperoleh dari laporan mandiri peserta. Kendati memiliki keterbatasan, para ahli independen menilai hasil penelitian ini tetap signifikan.
Secara global, lebih dari 15 juta orang mengalami stroke setiap tahun. Sekitar sepertiganya meninggal dunia, sementara jutaan lainnya hidup dengan kecacatan permanen. Para pakar menilai bahwa perubahan gaya hidup, termasuk pola makan, berperan besar dalam pencegahan.
Kepala eksekutif Asosiasi Stroke, Juliet Bouverie, menyebut bahwa sembilan dari sepuluh kasus stroke sebenarnya dapat dicegah. Ia menilai temuan ini membuka peluang besar untuk menurunkan angka stroke, terutama jenis hemoragik yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Diet Mediterania, menurutnya, bukan sekadar tren makanan, melainkan pendekatan jangka panjang untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan otak.