Senin, 26 Januari 2026

Detak Jantung Tak Teratur? Waspadai Fibrilasi Atrium


 Detak Jantung Tak Teratur? Waspadai Fibrilasi Atrium Ilustrasi -- Pemeriksaan kesehatan jantung. (Pixabay)

JAKARTA, ARAHKITA.COM  – Fibrilasi atrium merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung (aritmia) yang cukup sering terjadi, namun kerap tidak disadari penderitanya. Kondisi ini ditandai dengan detak jantung yang tidak beraturan dan cenderung cepat, akibat gangguan sinyal listrik di serambi (atrium) jantung.

Berdasarkan informasi resmi RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, fibrilasi atrium membuat atrium berkontraksi secara tidak sinkron sehingga aliran darah menuju bilik jantung (ventrikel) menjadi kurang optimal.

 “Pada fibrilasi atrium, kontraksi atrium tidak terkoordinasi. Akibatnya, efisiensi pemompaan darah menurun dan risiko komplikasi dapat meningkat,” tulis RS Harapan Kita dalam laman edukasi kesehatannya.

Gejala Sering Samar, Bahkan Tanpa Keluhan

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan bahwa gejala fibrilasi atrium bisa berupa jantung berdebar, detak tidak teratur, cepat lelah, pusing, hingga sesak napas. Namun, tidak sedikit penderita yang sama sekali tidak merasakan gejala.

“Sekitar 30 hingga 60 persen penderita fibrilasi atrium pada tahap awal tidak menunjukkan keluhan yang jelas,” demikian keterangan CDC yang dikutip Medical Daily.

Karena itu, banyak kasus baru terdeteksi secara tidak sengaja saat pemeriksaan denyut nadi atau melalui elektrokardiografi (EKG).

Deteksi Dini Penting untuk Cegah Komplikasi

Meski terlihat sepele, fibrilasi atrium tidak boleh dianggap ringan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, hingga pembentukan bekuan darah.

“Identifikasi dini memungkinkan dokter menentukan strategi pemantauan dan terapi yang tepat untuk menurunkan risiko komplikasi serius,” tulis RS Harapan Kita.

Penyebab dan Faktor Risiko Fibrilasi Atrium

Fibrilasi atrium dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan struktural jantung hingga masalah metabolik. Hipertensi, penyakit jantung koroner, dan kelainan katup jantung dapat memberikan tekanan berlebih pada atrium dan memicu gangguan impuls listrik.

Selain itu, United States National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) menyebut penuaan, tekanan darah tinggi, serta riwayat penyakit jantung sebagai penyebab paling umum.

“Perubahan jaringan jantung dan sinyal listrik akibat usia dan penyakit kardiovaskular menjadi dasar terjadinya fibrilasi atrium,” jelas NHLBI.

Peran Gaya Hidup dalam Memicu Aritmia

Tak hanya faktor medis, gaya hidup juga berpengaruh. Konsumsi alkohol berlebihan, kafein tinggi, stres, dehidrasi, obesitas, apnea tidur, hingga gangguan tiroid diketahui dapat memicu atau memperburuk episode fibrilasi atrium.

Pada individu yang rentan, bahkan obat-obatan stimulan tertentu dapat mempercepat denyut jantung dan memicu aritmia.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru