Jumat, 25 September 2026

Osteoporosis pada Pria? Ancaman Senyap yang Sering Diabaikan


 Osteoporosis pada Pria? Ancaman Senyap yang Sering Diabaikan Osteoporosis pada Pria? Ancaman Senyap yang Sering Diabaikan. (Klik Dokter)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Selama ini osteoporosis lebih sering dikaitkan dengan wanita, padahal penyakit tulang rapuh ini juga banyak menyerang pria. Semakin banyak pria hidup hingga usia lanjut, semakin tinggi pula risiko mereka mengalami pengeroposan tulang. Sayangnya, kesadaran untuk menjalani pemeriksaan atau pengobatan masih sangat rendah.

Ronald Klein, seorang dokter gigi dari Pennsylvania, tidak pernah menyangka dirinya mengidap osteoporosis. Saat bersepeda pada 2006, ia terjatuh dan mengalami patah tulang pinggul serta bahu.

“Seorang pria berusia 52 tahun tidak seharusnya mengalami patah tulang seperti itu,” katanya.

Hasil pemindaian menunjukkan tulangnya sudah menipis. Sejak itu, Klein rutin menjalani pengobatan dan kini tetap aktif di usia 70 tahun.

Osteoporosis menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah, terutama di bagian pinggul, punggung, dan pergelangan tangan. Meski wanita lebih sering terdampak, data menunjukkan sekitar satu dari lima pria berusia di atas 50 tahun akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Bahkan, seperempat kasus patah tulang pinggul pada orang lanjut usia terjadi pada pria.

Yang mengejutkan, dikutip CNA dari New York Times, pria cenderung memiliki hasil pemulihan yang lebih buruk dibandingkan dengan wanita. Menurut Dr. Cathleen Colon-Emeric dari Duke University, tingkat kematian pria setelah patah tulang akibat osteoporosis bisa mencapai 25 hingga 30 persen dalam setahun.

“Pria berusia 50 tahun lebih mungkin meninggal akibat komplikasi patah tulang besar daripada karena kanker prostat,” ujarnya.

Namun, hanya sedikit pria yang menjalani pemeriksaan kepadatan tulang. Dalam sebuah studi terhadap tiga ribu veteran berusia 65 hingga 85 tahun, hanya dua persen yang pernah diskrining. Ketika dibuat layanan khusus yang memudahkan proses pemeriksaan, jumlah pria yang bersedia menjalani pemindaian melonjak hingga 49 persen. Dari mereka yang diperiksa, setengahnya terbukti menderita osteoporosis atau kondisi pendahuluannya, osteopenia.

Banyak pria tidak menyadari bahwa usia, gaya hidup, dan kondisi medis tertentu dapat mempercepat pengeroposan tulang. Merokok, konsumsi alkohol berlebih, penggunaan obat steroid, hingga terapi kanker prostat dapat memperburuk kondisi tulang. Penyakit kronis seperti artritis reumatoid, hipertiroidisme, dan Parkinson juga termasuk faktor risiko.

Dr. Eric Orwoll dari Oregon Health and Science University menyebut ada “gagasan Superman” di kalangan pria — keyakinan bahwa mereka tidak mudah rapuh.

“Pria ingin percaya bahwa mereka tak bisa dihancurkan, jadi patah tulang dianggap sepele,” ujarnya. Kenyataannya, banyak pria baru mengetahui tulangnya keropos setelah mengalami patah tulang serius.

Hingga kini, pedoman medis untuk skrining osteoporosis pada pria masih beragam. Beberapa asosiasi profesional seperti Endocrine Society merekomendasikan pemeriksaan bagi pria di atas 50 tahun yang berisiko, serta semua pria di atas 70 tahun. Namun, lembaga lain seperti United States Preventive Services Task Force menilai bukti masih belum cukup kuat. Akibatnya, banyak perusahaan asuransi belum menanggung biaya pemeriksaan bagi pria yang belum pernah patah tulang.

Padahal, dengan deteksi dan pengobatan yang tepat, pria dapat memperbaiki kualitas hidup dan mengurangi risiko kematian akibat komplikasi tulang. Obat-obatan seperti Fosamax, Actonel, atau suntikan Prolia terbukti efektif memperkuat tulang. Disertai gaya hidup sehat seperti olahraga rutin, asupan kalsium dan vitamin D, serta berhenti merokok dan membatasi alkohol, osteoporosis bisa dikendalikan lebih baik.

Dr. Colon-Emeric berharap kesadaran tentang osteoporosis pada pria bisa meningkat. “Saya ingin semua pria di atas 70 tahun menjalani skrining,” katanya. “Patah tulang pinggul dapat mengubah hidup seseorang. Dua pertiga dari mereka yang mengalaminya tidak pernah kembali pada kondisi semula.”

Kasus Ronald Klein menjadi pengingat penting bahwa kekuatan fisik tidak selalu berarti tulang yang kuat. Bagi banyak pria, menjalani pemeriksaan dini bisa menjadi langkah kecil yang menyelamatkan kualitas hidup di masa tua.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru