Selasa, 27 Januari 2026

IRGC Tuduh 10 Badan Intelijen Asing Dalangi Kerusuhan di Iran


 IRGC Tuduh 10 Badan Intelijen Asing Dalangi Kerusuhan di Iran IRGC Tuduh 10 Badan Intelijen Asing Dalangi Kerusuhan di Iran. (Antaranews/Xinhua/Shadati)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menuding sedikitnya 10 badan intelijen asing berada di balik insiden kerusuhan yang terjadi di sejumlah wilayah Iran dalam beberapa waktu terakhir. Tuduhan tersebut disampaikan IRGC pada Jumat sebagai respons atas gelombang aksi unjuk rasa yang berujung kekerasan.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui media resminya, Sepah News, IRGC menyebut kerusuhan tersebut merupakan bagian dari rencana Amerika Serikat dan Israel yang bertujuan mengancam integritas teritorial serta stabilitas nasional Iran. IRGC mengklaim skenario tersebut gagal berkat langkah-langkah pengamanan yang dilakukan aparat keamanan Iran.

IRGC menyatakan bahwa sebuah ruang komando asing dibentuk setelah konflik selama 12 hari pada Juni lalu. Ruang komando tersebut, menurut klaim IRGC, dirancang untuk menciptakan kekacauan internal, memprovokasi intervensi militer asing, serta menggerakkan kelompok-kelompok yang dinilai mengancam keamanan negara. Namun, pernyataan tersebut tidak disertai bukti konkret.

Sepanjang periode Juni hingga akhir Desember, IRGC mengaku berhasil menggagalkan rencana tersebut dengan menangkap 735 orang yang disebut terhubung dengan jaringan antikeamanan. Selain itu, aparat keamanan Iran juga melakukan pembinaan terhadap sekitar 11.000 individu yang dikategorikan rentan serta menyita 743 senjata ilegal.

Dalam pernyataan terpisah, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf turut melontarkan tudingan serupa. Ia menyebut kerusuhan tersebut sebagai bentuk “kudeta semu” yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan itu disampaikan Ghalibaf dalam percakapan via telepon dengan Ketua Parlemen Turkiye Numan Kurtulmus pada Kamis.

Dalam pembicaraan tersebut, Ghalibaf juga menyampaikan apresiasi kepada Turkiye atas sikap non-intervensinya terhadap urusan dalam negeri Iran. Menurutnya, kebijakan tersebut mencerminkan penghormatan terhadap kedaulatan nasional Iran di tengah situasi regional yang sensitif.

Aksi unjuk rasa di Iran, dilansir Antara, mulai merebak pada Desember 2025 dengan dipicu persoalan ekonomi, sebelum kemudian berkembang menjadi tuntutan politik. Situasi tersebut berujung pada bentrokan dan kekerasan yang menyebabkan korban jiwa serta kerusakan pada fasilitas publik, termasuk masjid, gedung pemerintahan, dan perbankan.

Otoritas Iran secara konsisten menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas kerusuhan tersebut, dengan menuding kedua negara berupaya memanfaatkan ketidakpuasan publik untuk mengguncang stabilitas politik Iran.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru