Aktivis Greta Thunberg. (Antaranews/Antara/Anadolu)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, tampil di depan publik untuk pertama kalinya pada Senin (6/10) setelah dibebaskan dari penahanan otoritas Israel. Thunberg sebelumnya ditahan bersama 170 orang lainnya karena terlibat dalam armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza. Ia dan kelompok tersebut kemudian dideportasi dan diterbangkan ke Yunani serta Slovakia.
Dalam pernyataan publiknya di Bandara Internasional Eleftherios Venizelos, Athena, Thunberg menegaskan bahwa fokus utama bukanlah pengalaman pribadi yang dialaminya selama penahanan, melainkan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza. Ia menyebut bahwa Israel telah memperburuk situasi dengan melakukan “genosida yang disiarkan langsung.”
Meski sempat mengaku mengalami perlakuan buruk selama dalam penjara, termasuk pemukulan dan pemaksaan untuk mencium bendera Israel, Thunberg menyatakan bahwa yang lebih penting adalah penderitaan rakyat Palestina. Ia menyoroti bahwa dunia menyaksikan kekejaman ini secara terbuka dan tidak bisa mengklaim ketidaktahuan di masa depan.
Thunberg, dilansir Antara, juga menyebut bahwa penahanan dirinya dan aktivis lainnya merupakan dampak langsung dari keterlibatan pemerintah negara mereka masing-masing dalam mendukung tindakan Israel. Ia menyerukan akuntabilitas global terhadap apa yang disebutnya sebagai "upaya pemusnahan terhadap satu bangsa".
Dalam unggahan di Instagram-nya, Greta menjelaskan bahwa partisipasinya dalam Global Sumud Flotilla merupakan wujud solidaritas internasional terhadap rakyat Palestina. Ia mengkritik keras blokade yang dilakukan Israel terhadap Gaza dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional.
Aktivis muda yang dikenal karena gerakan “Fridays for Future” ini menambahkan bahwa banyak wilayah di dunia juga tengah mengalami penderitaan akibat sistem penindasan global, termasuk Kongo, Sudan, dan Afghanistan. Menurutnya, perjuangan untuk keadilan tidak boleh dibatasi pada satu wilayah saja.
Pernyataannya mendapat perhatian luas di media global, mempertegas peran aktivis muda dalam mengangkat isu kemanusiaan di panggung internasional.