Sekretaris Kemenko Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjawab pertanyaan wartawan dalam wawancara cegat di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (6/7/2026). (ANTARA/Imamatul Silfia)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) justru menunjukkan tren yang terus menguat. Hingga kuartal I-2026, pemerintah mencatat realisasi investasi di seluruh KEK telah mencapai Rp353,5 triliun. Capaian tersebut tidak hanya menunjukkan kepercayaan investor yang tetap tinggi, tetapi juga berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.
Secara akumulatif, investasi tersebut telah menyerap sekitar 266 ribu tenaga kerja, sekaligus memperkuat peran KEK sebagai motor pertumbuhan industri nasional.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, perkembangan investasi di kawasan-kawasan ekonomi khusus menjadi sinyal positif di tengah dinamika ekonomi dunia maupun berbagai penilaian dari lembaga pemeringkat internasional.
"Kami meyakinkan bahwa di Kawasan Ekonomi Khusus, hampir semuanya, khususnya yang berbasis industri manufaktur, investasi terjadi peningkatan yang luar biasa," ujar Susiwijono di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Tiga KEK Jadi Andalan Investasi
Menurut Susiwijono, tingginya minat investor terlihat dari kapasitas sejumlah kawasan industri yang telah terisi hampir penuh.
Ia mencontohkan tiga KEK berbasis industri yang mencatat kinerja paling menonjol, yakni KEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang.
Ketiga kawasan tersebut kini telah mengajukan permohonan perluasan lahan dengan rencana pengembangan rata-rata hingga dua kali lipat dari luas kawasan yang ada saat ini. Langkah itu dilakukan untuk mengakomodasi masuknya investasi baru yang terus berdatangan.
"Ini membuktikan bahwa investasi riil di industri manufaktur masih sangat menjanjikan di Indonesia," katanya.
Potensi Investasi Baru Rp846 Triliun
Pemerintah juga melihat peluang investasi yang masih sangat besar dalam beberapa tahun mendatang.
Seiring rencana ekspansi berbagai kawasan ekonomi khusus, potensi investasi baru diperkirakan mencapai Rp846 triliun.
Angka tersebut dinilai menjadi indikator bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan menarik bagi investor global, khususnya investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) di sektor manufaktur.
"Artinya, iklim investasi di Indonesia masih sangat kondusif dan masih sangat menarik bagi investasi asing langsung, khususnya di industri manufaktur," ujar Susiwijono dikutip Antara.
KEK dan PFII Berpotensi Beri Insentif Berlapis
Selain mendorong ekspansi kawasan industri, pemerintah juga membuka peluang integrasi antara Kawasan Ekonomi Khusus dengan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Menurut Susiwijono, kolaborasi tersebut dapat menghadirkan insentif yang lebih kompetitif bagi investor.
Pasalnya, KEK telah memiliki berbagai fasilitas dan insentif yang diatur secara khusus, sementara PFII juga menawarkan berbagai kemudahan di sektor jasa keuangan. Jika keduanya berada dalam satu kawasan, investor berpotensi memperoleh manfaat ganda berupa insentif dari KEK sekaligus fasilitas khusus yang dimiliki PFII.
Pemerintah berharap skema tersebut semakin memperkuat daya saing Indonesia dalam menarik investasi global dan mempercepat pertumbuhan sektor industri nasional.