Loading
Rupiah menguat ke level Rp17.930 per dolar AS setelah pasar merespons positif kenaikan suku bunga Bank Indonesia. (Foto: ilustrasi Infobanknews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (12/6/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat naik 59 poin atau sekitar 0,33 persen menjadi Rp17.930 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.989 per dolar AS.
Penguatan rupiah kali ini didorong oleh respons positif pelaku pasar terhadap langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa keputusan BI memberikan sinyal kuat mengenai komitmen menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Baca juga:
Airlangga: Kenaikan BI Rate Jadi Sinyal Kuat Jaga Rupiah dan Stabilitas Ekonomi IndonesiaMenurutnya, kenaikan suku bunga acuan berhasil menarik minat investor asing untuk kembali melirik aset-aset di Indonesia. Arus minat investasi tersebut turut membantu menjaga optimisme pasar dan memperkuat posisi rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meski demikian, sentimen eksternal masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Dolar AS mendapat dorongan setelah data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat yang dirilis pada 11 Juni menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Baca juga:
Pelemahan Rupiah Mulai Tekan UMKM, Pemerintah Siapkan Langkah Mitigasi dan Subsidi KedelaiData tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kondisi ini biasanya membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi investor global.
Selain faktor inflasi Amerika Serikat, pelaku pasar juga mencermati perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi yang tengah berlangsung diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan yang membantu meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Baca juga:
Ekonom: Kenaikan BI-Rate Bikin Aset Rupiah Lebih Menarik, tapi Bukan Solusi Jangka PanjangJika tercapai, kesepakatan tersebut berpotensi menjaga stabilitas pasokan energi global sekaligus menekan harga minyak dunia. Bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor minyak dalam jumlah besar, harga energi yang lebih terkendali dapat mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa negara.
"Hal ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi rupiah. Namun karena belum ada kesepakatan final, pasar masih bergerak dengan sikap yang relatif hati-hati," ujar Amru dikutip Antara.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.980 per dolar AS.
Pelaku pasar kini menunggu sejumlah perkembangan ekonomi global berikutnya untuk melihat arah pergerakan mata uang dan pasar keuangan dalam beberapa hari mendatang.