Loading
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat AS di ge
AKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik yang meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar sekaligus menekan nilai tukar rupiah.
“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia. WTI berada di level 94,58 dolar AS per barel, sementara Brent crude oil menguat ke 96,72 dolar AS per barel,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Menurut Ibrahim, ketidakpastian yang muncul akibat kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memperburuk sentimen pasar global. Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Akibatnya, harga minyak internasional terus bertahan di level tinggi, yang berdampak langsung pada meningkatnya tekanan inflasi global.
Kenaikan harga energi dinilai dapat membuat inflasi di Amerika Serikat sulit turun dalam waktu dekat. Situasi ini membuka peluang bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini.
“Kita melihat salah satu pejabat The Fed, Hammack, menyampaikan bahwa langkah pengetatan bisa saja dilakukan jika tren inflasi belum mereda. Ini mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga satu kali lagi pada 2026,” kata Ibrahim.
Prospek suku bunga tinggi biasanya membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor global sehingga memperkuat mata uang AS.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai tingginya harga minyak meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia yang mayoritas dibayar menggunakan dolar AS.
Selain itu, kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen perusahaan serta kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo juga turut meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik.
Ia juga menyoroti adanya kecenderungan sebagian masyarakat dan pelaku usaha mengalihkan dana ke instrumen berbasis valuta asing sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak ekonomi global.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Ibrahim menilai pemerintah perlu fokus memperkuat daya beli masyarakat dan menjaga ketersediaan pasokan barang, terutama yang bergantung pada impor.
Menurutnya, program bantuan sosial yang tepat sasaran juga penting untuk menjaga konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, pemerintah didorong mempercepat pengembangan sektor industri, ekonomi biru, serta meningkatkan produktivitas pertanian guna memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sampai sekarang karena sekitar 50 persen pertumbuhan ekonomi ditopang oleh daya beli masyarakat,” ujar Ibrahim.
Ibrahim juga menekankan pentingnya percepatan transformasi digital dan penyederhanaan regulasi investasi untuk menarik lebih banyak modal asing ke Indonesia.
Menurutnya, iklim investasi yang lebih kompetitif akan membantu memperkuat fundamental ekonomi nasional dan menjadi penopang stabilitas rupiah dalam jangka menengah maupun panjang.