Loading
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia Tangeran
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat (13/3/2026) pagi bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen, menjadi Rp16.923 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp16.893 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut pelemahan rupiah dipicu ketidakpastian global terkait konflik Iran melawan AS dan Israel.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian berakhirnya perang Iran melawan AS-Israel. Hal ini membuat pelaku pasar menghindari aset berisiko seperti rupiah sehingga indeks dolar AS meningkat,” kata Rully kJakarta, Jumat (13/3/2026) seperti yang dikutip dari Antara.
Ketegangan meningkat setelah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ari Larijani, menyatakan bahwa Iran akan membuat Presiden AS Donald Trump membayar atas agresi terhadap negaranya. Ia menegaskan perang tidak bisa dimenangkan hanya melalui cuitan dan keputusan menyerang Iran akan menjadi kesalahan perhitungan serius.
Sementara itu, Trump sebelumnya menyebut Iran “hampir berada di ujung jalan” dan mengancam akan menghancurkan kapasitas listrik Iran dalam satu jam, meski berharap tidak perlu mengeksekusi ancaman tersebut.
Selain sentimen global, Rully menjelaskan faktor domestik juga memengaruhi rupiah, yaitu kekhawatiran pelaku pasar terhadap defisit anggaran akibat kenaikan subsidi yang terdorong oleh harga minyak dan disiplin fiskal pemerintah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa APBN 2026 hingga akhir Februari mencatat defisit 0,53 persen terhadap PDB atau setara Rp135,7 triliun. Proyeksi keseluruhan defisit tahun ini mencapai Rp698,15 triliun, atau 2,68 persen terhadap PDB.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik, rupiah diperkirakan akan tetap volatil hingga perkembangan perang di Timur Tengah dan pengelolaan fiskal APBN 2026 lebih jelas.