Ketegangan AS–Iran Bikin Rupiah Melemah, Pasar Global Tetap Waspada


 Ketegangan AS–Iran Bikin Rupiah Melemah, Pasar Global Tetap Waspada Nilai tukar rupiah melemah ke Rp16.787 per dolar AS seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada penutupan perdagangan Jumat. Mata uang Garuda ditutup turun 28 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp16.787 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.759 per dolar AS.

Pelemahan ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar global. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai eskalasi isu geopolitik tersebut menjadi sentimen dominan yang menekan pergerakan rupiah sepanjang pekan ini.

Menurutnya, Washington dilaporkan mengerahkan tambahan kapal perang ke kawasan Timur Tengah dan melontarkan ancaman tindakan militer jika Teheran tidak menyepakati kesepakatan nuklir. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas global dan mendorong investor memilih aset yang lebih aman.

Upaya diplomasi antara AS dan Iran sendiri belum membuahkan hasil konkret. Perundingan terkait program nuklir Iran yang berlangsung pada Kamis (26/2/2026) berakhir tanpa kesepakatan jelas. Meski demikian, kedua pihak memberi sinyal bahwa negosiasi akan berlanjut, termasuk pembahasan teknis yang dijadwalkan berlangsung di Wina pekan depan dengan mediasi Oman.

Dari sisi Amerika Serikat, ketidakpastian ekonomi juga ikut membebani sentimen pasar. Putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar tarif perdagangan era Presiden Donald Trump memicu respons lanjutan berupa pengumuman tarif baru melalui kerangka hukum berbeda. Ancaman penerapan bea masuk tambahan membuat pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap potensi gangguan ekonomi global.

Selain faktor perdagangan, arah kebijakan moneter Federal Reserve juga menjadi sorotan. Kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi membuat pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Maret dan April. Harapan pemangkasan suku bunga pada Juni yang sebelumnya cukup kuat kini mulai memudar.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga kini lebih besar mengarah ke Juli 2026, dengan probabilitas sekitar 66 persen. Perubahan ekspektasi ini turut memperkuat dolar AS dan memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah dikutip Antara.

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari kebijakan perdagangan AS yang resmi memberlakukan bea masuk imbalan terhadap impor sel dan panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia. Untuk Indonesia, tarif subsidi umum yang dikenakan mencapai 104,38 persen, sebuah angka yang dinilai cukup memberatkan.

Sejalan dengan pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan rupiah ke level Rp16.779 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.758 per dolar AS.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru