Rupiah Menguat ke Rp16.744 per Dolar AS, Dipicu Sikap Tegas Trump soal Tarif


 Rupiah Menguat ke Rp16.744 per Dolar AS, Dipicu Sikap Tegas Trump soal Tarif Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer

JAKARTA, ARAHKITA.COM  – Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Kamis (26/2/2026) di Jakarta. Mata uang Garuda naik 56 poin atau 0,33 persen menjadi Rp16.744 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.800 per dolar AS.

Penguatan rupiah ini dinilai berkaitan erat dengan dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut sikap Presiden AS Donald Trump terkait kebijakan tarif menjadi salah satu pemicu pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah.

“Penguatan ini terkait erat dengan penegasan kembali komitmen Trump untuk mempertahankan kebijakan tarif, yang meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan perdagangan AS di masa depan dan meredam permintaan terhadap dolar AS,” ujar Josua di Jakarta, Kamis (26/2/2026) seperti yang dikutip dari Antara.

Menurutnya, pasar merespons pernyataan Trump yang tidak memberikan sinyal pelonggaran kebijakan tarif. Presiden AS tersebut justru kembali menegaskan keyakinannya bahwa mitra dagang asing akan tetap mematuhi perjanjian yang telah disepakati. Bahkan, Trump mengindikasikan bahwa tarif berpotensi menjadi alternatif pengganti pajak penghasilan.

Kebijakan tarif global sementara sebesar 10 persen yang telah diberlakukan AS juga disebut berpotensi meningkat menjadi 15 persen. Langkah ini mencuat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang sebelumnya diterapkan.

Di hadapan Kongres AS, Trump menyatakan hampir seluruh negara dan perusahaan ingin mempertahankan kesepakatan tarif yang sudah ada sebelum putusan Mahkamah Agung tersebut keluar.

“Pernyataan tersebut mendorong investor untuk mengalihkan aset berdenominasi dolar AS,” kata Josua.

Dengan mempertimbangkan faktor eksternal tersebut, Josua memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini berada dalam kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS. Ia menambahkan, volatilitas masih berpotensi terjadi seiring perkembangan kebijakan perdagangan global dan sentimen pasar keuangan internasional.

Penguatan rupiah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat, terutama yang berkaitan dengan tarif dan hubungan dagang global.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru