Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.811 per Dolar AS, Berpeluang Menguat Terbatas


 Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.811 per Dolar AS, Berpeluang Menguat Terbatas Arsip foto - Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis (12/2/2026) pagi di Jakarta tercatat melemah 25 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp16.811 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.786 per dolar AS.

Meski dibuka di zona merah, analis menilai rupiah masih memiliki peluang untuk menguat secara terbatas, seiring rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan perlambatan.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp16.750 hingga Rp16.800 per dolar AS.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melanjutkan penguatan, meski masih terbatas di kisaran Rp16.750–Rp16.800. Hal ini dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang lemah dan memberi sinyal potensi pelonggaran moneter oleh The Fed,” ujar Rully Nova di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Data Ekonomi AS Jadi Sentimen Utama

Dari sisi global, pasar merespons data penjualan ritel AS periode Desember 2025 yang tercatat stagnan di level 0,0 persen secara bulanan (month to month/mom). Angka ini melambat dibandingkan November dan lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen mom.

Selain itu, data ketenagakerjaan non-farm payrolls (NFP) Januari 2026 menunjukkan penambahan 130 ribu lapangan kerja. Angka tersebut memang lebih tinggi dari proyeksi 70 ribu, tetapi masih di bawah capaian Desember 2025 yang sebesar 181 ribu.

Revisi data juga menunjukkan total pertumbuhan pekerjaan non-pertanian sepanjang 2025 turun menjadi 181 ribu dari sebelumnya 584 ribu. Kondisi ini dinilai memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS yang diperkirakan berada di level 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sentimen Domestik: Inflasi dan Daya Beli

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati kondisi fundamental ekonomi Indonesia serta ruang fiskal pemerintah.

Analis pasar uang Lukman menilai bahwa struktur ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga perlu diwaspadai di tengah potensi kenaikan inflasi.

“Perekonomian Indonesia banyak ditopang oleh belanja masyarakat. Namun tren kenaikan inflasi ke depan dapat menggerus daya beli dan berdampak pada stabilitas pertumbuhan,” kata Lukman.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif dalam jangka pendek. Investor disarankan mencermati perkembangan data ekonomi global, khususnya kebijakan moneter The Fed, yang menjadi faktor penentu arah dolar AS.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru