Loading
1
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Rabu (4/2/2026)pagi dengan pergerakan melemah tipis. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp16.763 per dolar AS, turun 9 poin atau sekitar 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.754 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah masih cenderung terbatas. Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil menanti rilis sejumlah data ekonomi penting, baik dari Amerika Serikat maupun Indonesia.
"Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan potensi pelemahan terbatas terhadap dolar AS. Investor cenderung sideline karena menunggu data ekonomi penting AS dan data PDB kuartal IV-2025 Indonesia,” ujar Lukman di Jakarta, Rabu (4/2/2026)
Dari Amerika Serikat, perhatian pasar tertuju pada data ISM sektor jasa yang diperkirakan melambat dari 54,4 menjadi 53,5. Selain itu, data Non-Farm Payrolls (NFP) juga menjadi sorotan meski jadwal rilisnya mengalami ketidakpastian.
Mengutip laporan Xinhua, Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengumumkan bahwa laporan NFP Januari 2026 yang semula dijadwalkan Jumat (6/2/2026) ditunda tanpa batas waktu. Penundaan ini dipicu oleh penutupan sebagian pemerintahan AS akibat kebuntuan anggaran di Kongres, khususnya terkait pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri.
Sementara dari dalam negeri, data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal IV-2025 diperkirakan tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan atau 1,43 persen secara kuartalan.
Namun demikian, sentimen pasar regional dinilai masih belum sepenuhnya kondusif.
“Sentimen domestik belum pulih sepenuhnya. Selain itu, sentimen Asia hari ini berpotensi risk off mengikuti Wall Street yang mengalami tekanan akibat aksi jual saham teknologi,” jelas Lukman, seperti yang dikutip dari Antara.
Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.700 hingga Rp16.850 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.