Pria di AS Didakwa Retas 570 Akun Snapchat Perempuan, Modusnya Menyamar Jadi Petugas Resmi


  • Minggu, 11 Januari 2026 | 20:15
  • | Tekno
 Pria di AS Didakwa Retas 570 Akun Snapchat Perempuan, Modusnya Menyamar Jadi Petugas Resmi Ilustrasi aplikasi Snapchat untuk watchOS. (ANTARA/Snapchat)

AMERIKA SERIKAT, ARAHKITA.COM — Kasus peretasan Snapchat berskala besar kembali menghebohkan Amerika Serikat. Seorang pria asal Illinois didakwa setelah diduga berhasil membobol ratusan akun Snapchat milik perempuan, lalu mencuri foto-foto pribadi mereka.

Nama pria itu Kyle Svara (26). Menurut laporan yang dikutip dari Gizchina pada Jumat (9/1/2026), Svara diduga menjalankan aksinya dengan cara yang sangat licik: menyamar sebagai petugas resmi Snapchat.

Modusnya sederhana tapi mematikan. Ia menghubungi para korban, membangun kesan seolah sedang menangani masalah keamanan akun, lalu meminta kode akses yang seharusnya bersifat rahasia. Begitu kode itu diberikan, korban pada dasarnya “membukakan pintu” akun mereka sendiri.

Mengirim Pesan ke Ribuan Orang Demi Kode Masuk

Dokumen pengadilan menyebut, aksi Svara berlangsung cukup lama, yakni sejak Mei 2020 sampai Februari 2021. Dalam rentang waktu tersebut, ia disebut berhasil mengumpulkan data penting—mulai dari alamat email, nomor telepon, hingga nama akun Snapchat.

Tidak tanggung-tanggung, ia diduga mengirim pesan ke lebih dari 4.500 orang untuk meminta kode akses. Dari upaya masif itu, Svara akhirnya bisa masuk ke sekitar 570 akun Snapchat.

Setelah akun berhasil diretas, sebagian foto pribadi milik korban disebut dibagikan atau bahkan dijual secara daring.

Diduga “Jual Jasa” Peretasan Lewat Internet

Pihak berwenang menilai kasus ini bukan sekadar tindakan iseng atau aksiD: Svara diduga terlibat dalam praktik “bisnis gelap” peretasan. Ia disebut menawarkan jasa peretasan melalui forum daring, termasuk platform seperti Reddit.

Kepada calon klien, Svara disebut mengklaim mampu meretas akun Snapchat perempuan dan menjual, menukar, atau menyerahkan foto pribadi dari akun-akun yang ia bobol.

Salah Satu Kliennya Mantan Pelatih Kampus

Salah satu bagian yang paling menggemparkan adalah dugaan keterlibatan pihak lain yang menggunakan jasa Svara.Dokumen menyebut salah satu kliennya adalah Steve Waithe, mantan pelatih di Northeastern University. Waithe disebut menggunakan jasa Svara untuk meretas akun Snapchat perempuan dari anggota tim olahraga.

Waithe sendiri sudah dijatuhi hukuman penjara pada 2024, dalam kasus yang mencakup pelecehan siber dan pemerasan seksual, dengan korban lebih dari 100 perempuan.

Korban Berasal dari Berbagai Daerah

Korban peretasan juga tidak hanya berasal dari satu wilayah. Svara disebut meretas akun perempuan di Plainfield, Illinois, serta sejumlah mahasiswi di Colby College, Maine.

Pejabat menilai pola yang muncul menunjukkan rencana yang terstruktur: menargetkan perempuan dan mengambil keuntungan dari foto pribadi yang dicuri.

Tidak heran, kasus ini disebut sebagai salah satu peretasan Snapchat terbesar dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena mengandalkan kebohongan dan manipulasi kepercayaan.

Terancam Hukuman Berat

Kini Kyle Svara menghadapi sejumlah dakwaan, antara lain:

  • pencurian identitas (identity theft)
  • penipuan melalui sarana elektronik (wire fraud)
  • penipuan komputer
  • klaim palsu terkait pornografi anak

Ia dijadwalkan hadir dalam sidang di pengadilan federal Boston pada 4 Februari.

Jika dinyatakan bersalah, ancaman hukumannya tidak main-main. Dakwaan pencurian identitas membawa hukuman minimal dua tahun penjara. Sementara wire fraud dapat dihukum hingga 20 tahun, ditambah potensi hukuman lain dari dakwaan tambahan yang bisa mencapai lima hingga delapan tahun.

Pengingat: Jangan Pernah Bagikan Kode OTP ke Siapa Pun

Kasus ini kembali menegaskan satu hal penting dalam keamanan digital: kode akses dan OTP bukan untuk dibagikan kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas resmi dikutip Antara.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk makin waspada terhadap modus penipuan yang menyamar sebagai layanan pelanggan, karena pola seperti ini masih sering terjadi dan terus berevolusi.

Bagi korban dan kelompok pemerhati privasi, kasus ini jadi peringatan bahwa perlindungan data pribadi harus diperkuat—terutama ketika foto dan informasi sensitif bisa berubah menjadi “komoditas” di internet.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tekno Terbaru