Selasa, 27 Januari 2026

Tradisi Poliandri di Himalaya, Ketika Satu Istri untuk Beberapa Saudara


 Tradisi Poliandri di Himalaya, Ketika Satu Istri untuk Beberapa Saudara Saudara Pradeep dan Kapil bersama pengantin mereka (Facebook/The Independent)

DI SEBUAH desa terpencil di Himalaya, India, tradisi pernikahan unik masih bertahan hingga kini. Namanya Jodidara, sebuah praktik poliandri di mana seorang perempuan menikah dengan beberapa saudara laki-laki sekaligus. Meski terdengar asing bagi banyak orang, bagi komunitas Hatti di Himachal Pradesh, tradisi ini adalah cara menjaga keutuhan keluarga sekaligus mempertahankan tanah warisan agar tidak terpecah.

Pada Juli lalu, perhatian publik tersita ketika Sunita Chauhan menikahi dua bersaudara, Pradeep dan Kapil Negi, dalam sebuah upacara meriah di desa Shillai. Video pernikahan tersebut viral di media sosial, menimbulkan perdebatan sekaligus rasa penasaran masyarakat luas. Namun bagi warga setempat, hal itu bukan hal baru.

“Kami mengikuti tradisi ini karena bangga, dan ini keputusan bersama,” ujar Pradeep, salah satu mempelai pria.

Kapil, sang adik yang bekerja di luar negeri, menambahkan bahwa tradisi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk komitmen untuk saling mendukung. “Kami percaya pada stabilitas, transparansi, dan cinta sebagai satu keluarga,” katanya.

Akar Budaya dari Mahabharata

Tradisi Jodidara diyakini berakar dari epos Mahabharata, di mana tokoh Draupadi menikah dengan kelima Pandawa. Karena itu, praktik ini sering disebut Draupadi Vivah atau Pandav Pratha. Komunitas Hatti yang tinggal di distrik Sirmaur dan Uttarakhand bahkan menganggap diri mereka sebagai keturunan Pandawa, sehingga praktik ini masih dilestarikan.

Alasan Ekonomi dan Sosial

Latar belakang utama tradisi ini adalah faktor ekonomi. Dengan wilayah pegunungan yang sulit dijangkau serta lahan pertanian yang terbatas, pernikahan poliandri dianggap sebagai solusi untuk menjaga tanah warisan tetap utuh.

“Kalau semua saudara menikah dengan perempuan yang sama, tanah tidak terpecah. Keluarga pun tetap bersatu,” jelas Raghuvir Tomar, warga Shillai.

Dalam praktiknya, rumah tangga bisa terdiri dari dua hingga lima saudara laki-laki yang berbagi seorang istri. Anak-anak dari pernikahan itu tidak dianggap sebagai milik satu ayah biologis, melainkan tanggung jawab bersama. Bahkan ada aturan unik: ketika seorang suami bersama istrinya, ia akan menaruh topi di depan pintu kamar sebagai tanda bagi saudara lain.

Cerita di Balik Harmoni

Meski bagi sebagian keluarga tradisi ini berjalan dengan damai, ada pula kisah-kisah sulit. Seorang perempuan tua mengaku pernah dipaksa menikah dengan dua saudara laki-laki demi menjaga tanah keluarga. Ia menyebut pengalaman itu berat, karena harus membagi perhatian di antara dua suami.

“Kami dulu tidak punya pilihan. Sekarang, perempuan lebih berpendidikan, jadi tekanannya berbeda,” ujarnya.

Namun, banyak juga keluarga yang melihat Jodidara sebagai bentuk solidaritas. Jika salah satu saudara meninggal, yang lain akan merawat istri dan anak-anaknya. Bagi sebagian besar warga, ini dianggap sebagai sistem yang adil dan praktis, meskipun tidak selalu mudah.

Tradisi yang Perlahan Memudar

Modernisasi perlahan menggeser praktik ini. Pendidikan, urbanisasi, dan pola hidup baru membuat banyak keluarga memilih pernikahan monogami. Generasi muda yang berkarier di kota pun lebih sering menikah secara mandiri. Meski begitu, di desa-desa terpencil, Jodidara masih bertahan sebagai identitas budaya sekaligus simbol persatuan keluarga.

“Dulu semua diatur oleh tetua. Sekarang anak-anak muda punya pilihan sendiri. Tapi bagi kami, tradisi ini tetap punya nilai,” ujar Munna Singh Chauhan, petani lokal yang sejak kecil sudah dijodohkan dalam sistem Jodidara dilansir The Independent.

Antara Cinta, Tradisi, dan Realitas

Poliandri di Himalaya adalah gambaran tentang bagaimana tradisi bisa lahir dari kebutuhan praktis: menjaga tanah, mengurangi konflik, dan mempererat persaudaraan. Namun di sisi lain, ia juga menyimpan dilema bagi perempuan yang terlibat di dalamnya.

Apakah Jodidara akan tetap bertahan atau hilang ditelan modernitas? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, praktik ini adalah bagian dari mozaik budaya India yang penuh warna, sekaligus cermin bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kondisi alam dan sosialnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Wedding Terbaru