ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Teologi Selfie (1)

Mempertimbangkan Perlunya Refleksi Teologis tentang Fenomena Selfie

Selasa , 05 November 2019 | 14:00
Mempertimbangkan Perlunya Refleksi Teologis tentang Fenomena Selfie
Ilustrasi: Foto selfie warga salah satu wilayah di Paroki St. Paulus Depok usai mengikuti lomba jalan kaki. (Foto: Istimewa)

Oleh: Andreas B. Atawolo, OFM

PERLU sebuah Teologi Selfie? Pertanyaan itu muncul dalam benak saya. Jelas bahwa Teologi yang sadar zaman tidak anti dunia digital, melainkan menjadikannya sebagai tempat (locus) berteologi. Artikel ini memuat pertimbangan sederhana mengapa pertanyaan itu perlu dijawab positif, bahakan dikembangkan.

Identitas. “Selfies are blessings from God”, demikian tulis Craig Detweiler, seorang psikolog dan penulis populer, dalam Selfies: Searching for the Image of God in a Digital Age. Dalam sebuah wawancara ia berkata: “Bagi saya, begitu banyak krisis di negara dan budaya kita berakar pada masalah identitas. Orang-orang merasa tidak terlihat, tidak diakui, dan kurang terwakili.

Dan mereka dengan putus asa menangis agar diperhatikan, ditegaskan, dan dicintai. Saya melihat selfie berakar dari kelaparan terdalam kita, kerinduan terbesar kita”.

Kebebasan

Selfie adalah bentuk ekspresi diri paling populer dalam media sosial. Kecanggihan ponsel pintar memungkinkan kita bebas memilih, bahkan merekayasa style, tempat, suasana untuk berfoto dan mengambil video. Kita berada pada dunia di mana semua orang bebas menampilkan diri. Setiap diri hadir dan ada di sana. Kebebasan ada dalam genggaman masing-masing orang. Disebut medsos, karena sifatnya sosial, terkoneksi, ada dan hadir warga yang berinteraksi. Media, bukan sekedar chanel untuk dipilih, melainkan tempat kita berada.

Makhluk Indrawi
Medsos menjadi media yang memungkinkan kita menegaskan diri sebagai makhluk indrawi. Kita melihat dan mengamati foto, menonton dan mendengar video: Ini terkait kemampuan visual dan pencerapan. Kita mengekspresikan reaksi dengan menggunakan feature-feature yang tersedia dalam gudget: gembira, kecewa, marah, mencintai, bahkan bahagia. Dan menarik bahwa kita menggunakan sentuhan kulit jari untuk berselancar. Selfie mengaskan ini: I feel so I am. Dengan selfie kita sedang menegaskan bahwa dalam hidupnya manusia tidak hanya berpikir logi: Ia juga merasa.

Orang yang merancang gudget tentu sangat paham bahwa indra-indra manusia itu dinamis dan interaktif. Dengan kata lain, sarana gudget menegaskan bahwa kemampuan indrawi dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan pengenalan meuju sebuah komunikasi yang lebih mendalam antara manusia. Santo Bonaventura (1217-1274) misalnya meyakini bahwa ketika pancaindra digunakan dengan baik, ia menjadi pintu masuk menuju kepekaan hati (sensus cordis). Ketika kita berhenti pada hal-hal indrawi, kita hanya suka sensi, dangkal, bahkan infantil.

Perfeksionisme sosial. Sangat wajar bahwa tidak ada manusia normal yang dengan sengaja mau tampak bernampilan buruk atau jelek. Pada dasarnya manusia ingin tampak sempurna. Dalam media sosial tersedia banyak sarana yang memanjakan warga net untuk menampilkan yang menarik dan unik. Media sosial tidak terkait dengan pandangan nyata orang tentang diri saya, tetapi apa yang orang lain harapkan tentang saya (Will Storr, Selfie, 147). “Perfeksionisme sosial” tidak terkait langsung dengan nilai diri pada level etis. Ukuran perfect dalam medos ialah pengakuan orang lain: sejauhmana harapan orang lain tentang aku terjawab. Pertanyaannya: apa kriteria terbaik tentang diriku? Untuk sementara pertanyaan ini kita simpan dulu.

Wajah
Selfie pada umumnya menampilkan wajah. Menampilkan wajah berarti menyatakan aku hadir dalam daftar absensi para netizen: Aku hadir sebagai pribadi di antara orang-orang lain. Setiap orang menegaskan diri sebagai pribadi atau person. Tetapi perlu dicatat: kata pribadi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata prosopon yang berarti ‘topeng’. Dalam dunia teater, mengenakan topeng berarti memainkan peran tertentu, tetapi bukan diri sendiri. Nah, peran teatrik sangat memerlukan topeng, tetapi hidup tentu bukan teater. Dalam hal ini selfie menjadi sarana bagi setiap netizen untuk membedakan antara topeng dan wajah asli dirinya.

Exist atau co-exist?
Kata self menegaskan eksistensi diri seseorang. Di dunia maya saya menjadi diri sendiri (to be myself), tidak ditentukan oleh siapapun. Tetapi pertanyaannya: bagaimana seseorang dapat mengklaim bahwa ia eksis (ada, diakui) di dunia, entah nyata atau maya? Jawabannya: pertama, karena seseorang ada sebagai subjek di suatu tempat atsu media. Tetapi yang kedua, karena ada pengakuan dari orang lain. Bukankah ketika sebuah foto selfie tidak mendapat like dan comment berarti sesorang diabaikan? Bukankah semakin sebuah selfie mendapat banyak reaksi, artinya keberadaan seseorang semakin diakui?

Dengan kata lain, selfie justru menegaskan bahwa kita butuh sesama, kita butuh ada dan hadir bersama orang lain (co-exist). Selfie yang tidak diakui tidak bedanya dengan selfless: tidak diakui alias diabaikan. Jadi selfie dapat menjadi sarana untuk menegaskan bahwa pengakuan sesama akan keberadaanku tidak cukup di dunia maya atau dengan hal lain di sekitarku, melainkan dan terutama dalam kenyataan siapa diriku apa adanya. Manusia tidak hanya membutuhkan jejaring untuk komunikasi. Ia membutuhkan perjumpaan (encounter) dan berada bersama orang lain.....(Bersambung). |https://andreatawolo.id/|

Penulis, sejak 2016 aktif mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR