Pers di Tengah Serbuan Hoaks


 Pers di Tengah Serbuan Hoaks Logo anti hoaks.(theindonesianinstitute.com)

KITA tak hanya mengalamai banjir seperti saat ini, tetapi juga banjir informasi yang malah terjadinya tiap hari, tak hanya pada musim penghujan. Namanya banjir pasti tidak menyenangkan. Ia hanya membawa sengsara dan bikin repot. Bangsa kita pun saat ini sedang repot dan susah menghadapi banjir informasi.

Bila saja informasi yang disebarkan itu positif, membawa pencerahan, banjir informasi itu tak perlu disesali. Persoalannya: informasi yang datang itu lebih banyak konten negatifnya. Media sosial kita banyak berisi hoaks alias berita bohong, ujaran kebencian, intoleransi, dan konten negatif lainnya.

Sedihnya, makin banyak orang percaya alias menelan bulat-bulan informasi atau berita palsu tersebut. Tentu saja ini jadi masalah besar bagi bangsa kita mengingat jumlah pemakai internet di tanah air saat ini sekitar 132,7 juta dan jumlah gawai alias telepon pintar yang digunakan sekitar 280 juta. Masifnya penggunaan internet, masifnya penggunaan gawai memberi peluang makin masifnya pula hoaks disebarkan.

Dan, bangsa kita dikenal termasuk “cerewet” dalam berkicau di medsos. Tiap satu detik ada 15 twit dari Indonesia. Bayangkan, kita belum sempat menarik napas, sudah ada twit baru lagi. Negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, juga tinggi menggunakan internet. Bedanya, mereka memanfaatkannya untuk kebutuhan kerja, sementara di Indonesia lebih banyak untuk jejaring sosial yang kontennya cenderung hoaks.

Memang hoaks tak hanya melanda Indonesia. Di negara-negara lain seperti Amerika Serikat juga banyak muncul hoaks. Tetapi di sana hoaks tidak mendapat oksigen cukup, bisa dikontrol karena literasi sebagian besar masyarakatnya sudah lebih baik.

Akan halnya kita, telah terjadi kesenjangan antara perkembangan infrastruktur dan literasi. Tekonologi, komunikasi dan informasi serta jejaring digital berkembang pesat, tetapi kesiapan kita dan pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan tekonoligi informasi dan komunikasi masih jauh dari memadai. Akibatnya, hoaks dengan segala ujaran kebenciannya muncul. Tidak heran dunia internet kita dibanjir konten negatif.

Bagaimana menghadapi hoaks? Memerangi hoaks tidak cukup dilakukan oleh pemerintah dan operator penyedia jaringan komunikasi, tetapi semua pihak terkait mulai dari dunia pendidikan, orangtua, generasi muda, dan media. Perlu ada literasi. Masyarakat harus smart pula menggunakan smartphone-nya.

Apalagi mengunggah konten negatif termasuk tindakan melawan hukum sebagaimana diatur dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Karena itu kebiasaan saring sebelum sharing dan think sebelum posting harus terus dilakukan dan menjadi bagian dari literasi.

Hari ini 9 Februari 2018, insan pers merayakan Hari Pers Nasional di Padang dengan tema “Meminang Keindahan di Padang Kesejahteraan.” Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan hadir pada puncak acara HPN 2018 ini. Lantas apa peran pers menghadapi banjir hoaks, ujaran kebencian, dan intoleransi?

Pers tidak bisa berpangku tangan. Besama berbagai pihak terkait, pers wajib ikut memerangi berbagai konten negatif dengan ikut mengembangkan literasi dan menghasilkan berita yang memenuhi standar etika pers.

Memerangi konten negatif seperti hoaks adalah peran yang wajib dimainkan dunia pers saat ini. Bukankah dalam sejarah pertumbuhannya pers Indonesia adalah pers perjuangan? Sejak lahirnya di bumi pertiwi, pers yang dibangun oleh anak bangsa telah menjadi bagian penting dari perlawanan terhadap kolonialisme.

Ketika Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya lewat Revolusi Fisik, pers telah ambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan menyebarkan berita tidak saja di dalam negeri tetapi juga keluar negeri.

Pers kita juga telah ikut dalam perjuangan Reformasi. Reformasi telah membuka ruang kebebasan bagi kita. Dan besamaan dengan itu masayarakat kita dapat mengakses informasi dengan bebas.

Demikianlah era Reformasi adalah zaman besar bagi kita. Tapi zaman besar ini tidak diimbangi dengan karya-karya besar pula. Di zaman besar ini justru kita dibanjiri hoaks, ujaran kebenecian dan konten negatif lain.

Inilah yang memilukan. Zamannya, zaman besar, tapi kitanya tak ikut besar. Karena itu, bersama berbagai pihak, pada HPN ini pers wajib mengikrarkan diri untuk ikut memerangi berbagai konten negatif di jagat media kita.(Willy Hangguman)

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru