Selasa, 27 Januari 2026

Inspirasi di Tedang Lepo Lorun dan Gagasan Kolaborasi Talenta


 Inspirasi di Tedang Lepo Lorun dan Gagasan Kolaborasi Talenta Penggagas dan Pemilik Lepo Lorun Tenun Ikat, Alfonsa Horeng pose bersama jurnalis perempuan asal Sikka, Farida Denura di Lepo Lorun Tenun Ikat, Nita, Sikka, NTT, Selasa (16/2/2021). (Foto-Foto: Lepo Lorun Tenun Ikat/Wilfridus Ero)

Oleh: Simply da Flores

SEBUAH pertemuan spontan terjadi di Tedang Lepo Lorun, Nita Pleat, Kabupaten Sikka  pada hari ini, Rabu 17 Februari 2021. Perjumpaan tiga orang muda Nian Tana yakni seorang perempuan jurnalis dan pegiat di sosial media, satu lagi peminat tradisi lisan Natar Tana, Simply Yuvenalis dan seorang pemilik sentra ikat tenun-Lepo Lorun Institut, Du’a Alfonsa Horeng.

Sebagai tuan rumah dengan aneka kesibukan rutin, juga melayani tamu yang silih berganti datang ke Lepo Lorun,  Du'a Alfonsa Horeng dengan ramah menyajikan kopi  plus pisang Kepok goreng dan membagi cerita kegiatannya. Saya mendengarkan sambil meneguk kopi hangat ditemani rokok,  sedangkan Du'a wine Farida Denura menimpali beberapa kesannya serenyah pisang goreng yang tersaji. Maklum, Dua wine ini kemarin baru berfoto dengan busana lokal di arena photo spot milik Lepo Lorun Institut. Obrolan makin semangat ketika masuk tema bagaimana karya tekstil tradisional tenun ikat serta kearifan lokal leluhur dalam tradisi lisan di nian tana - wilayah Kabupaten Sikka Flores, bisa berkiprah di tingkat nasional dan dunia internasional. Bukan saja untuk dikenal, tetapi juga untuk menciptakan uang - making money, karena keunikan potensinya.

Disadari bahwa modal sosial dan khasanah adat budaya yang dimiliki komunitas adat budaya, juga sangat berpeluang pasar, ketika bisa kelola secara profesional.

Salah satu daya dukung zaman now adalah adanya kecanggihan teknologi informasi, yang menjangkau berbagai pelosok dunia dan mempertemukan berbagai manusia sejagat. Inilah peluang strategis dan Lepo Lorun harus segera move on untuk 'Go Digital'.

Disisi lain, dengan teknologi informasi, bisa juga ikut mendukung pendidikan generasi muda di kampung halaman serta bangsa ini, tentang kekayaan pengetahuan dan kearifan yang terkandung dalam adat budaya warisan leluhur. Modernitas dan zaman Milenial, tidak boleh membuat generasi muda kehilangan identitas serta kebanggaan akan warisan kerifan lokal adat budayanya.

Ada harapan dan prinsip bahwa kita hidup dengan modernitas dan tanpa jarak karena teknologi informasi, tetapi tetap unik dan memiliki identitas kelokalan.

Dengan media sosial, generasi muda di sekolah semua tingkatan kiranya bisa didukung informasi pembelajaran tentang: karya tekstil tradisional tenun ikat, musik tradisional, arsitektur rumah adat, ragam hias dan tata busana adat dan etnik kreatif, ritual adat dan masih banyak materi kearifan lokal lainnya. Materi yang sama bisa juga diminati oleh generasi muda dari berbagai wilayah di NKRI bahkan mancanegara. Tidak mustahil jika dikemas dengan profesional.

Rupaya, karena semangat asyik diskusi, tidak disadari hampir dua jam berlalu. Kopi sudah habis, pisang goreng tak tersisa, lalu datanglah es teh manis sebagai ganti kelapa muda. Ada inspirasi untuk mengerucutkan diskusi, dalam bahasa lokal namanya Kulababong. Apa yang  mau dan bisa dibuat bersama ke depan?

84769de0-047a-4d6a-86ea-fbd5d2a39e47

Pertemuan spontan terjadi di Tedang Lepo Lorun, Nita Pleat, Kabupaten Sikka  pada hari ini, Rabu 17 Februari 2021 antara seorang perempuan jurnalis dan pegiat di sosial media, satu lagi peminat tradisi lisan Natar Tana, Simply Yuvenalis dan seorang pemilik sentra ikat tenun-Lepo Lorun Institut, Du’a Alfonsa Horeng. (Foto: Lepo Lorun Tenun Ikat/Wilfridus Ero)

Du'a wine Farida Denura mengatakan bahwa upaya produktif - menciptakan uang dan menghasilkan profit terbuka luas peluangnya, jika ada "kolaborasi talenta". Soal Legalitas dan badan usaha, strategi bisnis serta manajemen kerja, hanya bisa dibangun di atas dasar semangat  kolaborasi talenta. Artinya, perlu ada kerja sama antara sejumlah pribadi dengan profesionalitas dan komitmen, dengan satu tujuan bersama yang disepakati.

Kolaborasi talenta mengandaikan  kejujuran personal dan spiritualitas yang positif antar pribadi multpihak yang terlibat, agar bisa bertukar pikiran, saling menopang dalam berbagi peran dan saling terbuka untuk berbagi manfaat. Jika hal tersebut lahir tulus dari dalam pribadi dan dipegang teguh, maka manajemen kerja bisa dilakukan serta semua alat bantu legal dan administratif operasional bisa disiapkan dan digunakan. Harus ada saling kepercayaan - trust untuk kerja bersama, menjaga dan merawat bersama, serta berbagi manfaat bersama dan mengejar nilai bersama dalam pilihan kolaborasi talenta.

Karena ada kesibukan masing-masing, hari menjelang senja, maka diskusi disudahi untuk nanti dilanjutkan waktu berikut. Ternyata sudah 4 jam Kulababong dan selung huk (diskusi tukar pikiran), semacam brain storming.

Setelah sepakat nanti saling info untuk agenda diskusi terfokus tentang bagaimana kolaborasi talenta, kami berpamitan. Materinya nanti adalah apa bentuk kolaborasi talenta untuk menciptakan uang dan mengharumkan nama kampung halaman; melalui khasanah kearifan lokal dalam tradisi adat budaya di Kabupaten Sikka - Flores, NTT di tingkat lokal, nasional dan internasional.

Saatnya melihat peluang zaman now, jangan NATO (No Action Talking Only), tetapi berpikir global dan bertindak lokal, untuk manfaat besar dan dampak luas. Think globaly, act locally for big benefit and widely impact. Dalam bahasa lokal, sara natar tana, kolaborasi talenta disebut 'witi e kikir - rema e epak, sareng Ita mogat sawen'. Terjemahan bebasnya, Jari-jari tangan bekerja sama menyatukan di telapak untuk berbagai keperluan dan kebaikan bersama para pihak.

Semoga!!!

Simply da Flores, Pemerhati Sosial, Budaya dan HAM, Direktur Harmoni Institut.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru