Loading
Simply da Flores, Pemerhati Sosial, Budaya dan HAM, Direktur Harmoni Institut. (Foto: Istimewa)
Oleh: Simply da Flores
HARI Selasa, 16 Februari 2021, terjadwal bahwa masyarakat Kabupaten Sikka akan dikunjungi Presiden Jokowi, dalam rangka peresmian bendungan. Nama proyeknya adalah Bendungan Napun Gete di wilayah Tana Ai, kecamatan Wablama.
Untuk berbagai kepentingan yang diharapkan, khususnya sumber air dan irigasi, patut disyukuri proyek ini. Semga proyek ini tidak meninggalkan persoalan, karena pernah dipublikasi soal penyelesaian ganti untung tanah masyarakat.
Ada satu pikiran, dalam rangka penghargaan kepada Masyarakat Tana Ai. Karena sudah menyumbangkan tanah dan berbagai dukungan moril, maka kiranya nama bendungan ini dimeteraikan dengan nama tokoh pejuang masyarakat Tana Ai yakni DU'A TORU.
Beliau adalah tokoh adat dan pejuang yang dihormati masyarakat Tana Ai dalam menghadapi penjajah dan kaki tangannya di wilayah Maumere zaman dulu. Dua Toru se-zaman dengan Teka Iku, dan saudaranya Keso Kuit.
Nama mereka terpatri pada nama jalan yang ada di kota Maumere, Jalan Dua Toru, Jl. Keso Kuit, Jln. Teka Iku. Ini artinya Dua Toru adalah pejuang dan pahlawan 'tawa tana' yang harus dibanggakan. Selanjutnya mereka patut diproses untuk menjadi pahlawan Nasional.
Karena itu, pada momen peresmian ini, kiranya masyarakat, media, juga wakil rakyat bisa mengusulkan kepada Pemda Sikka, agar nama DUA TORU, dipatrikan sebagai nama bendungan ini.
Teringat satu semboyan heroik beliau adalah "Au Dua Toru, mout ganu ular uta-panan ganu ohu tawan". Terjemahan bebasnya, Saya Dua Toru, cepat seperti piton, lincah seperti ular lidi. Ungkapan heroik yang menegaskan makna kesatuannya dengan alam Tana Ai dan masyarakatnya.
Semoga usul ini direstui beliau, Dua Toru, dan masyarakat Tana Ai, lalu diakomodir serta diterima Bupati dan DPRD Kabupaten Sikka; sehingga ketika bendungan ini diresmikan, Presiden Jokowi sekalian mendeklarasikan bahwa Proyek Bendungan Napun Gete meteraikan dan diberi nama; BENDUNGAN DUA TORU.
Tabe, Epan gawan.
Simply da Flores, Pemerhati Sosial, Budaya dan HAM, Direktur Harmoni Institut.