Loading
Ilustrasi - Durmogati sebagai sosok plonga-plongo yang ambigu dan abu-abu di tengah dunia yang terpolarisasi. (Foto: Istimewa)
Oleh: Jaya Suprana
Budayawan dan penggagas Kelirumologi
ISTILAH plonga-plongo kerap dipakai sebagai olok-olok. Ia diasosiasikan dengan wajah kosong, pikiran melayang, dan respons yang datang terlambat. Namun melalui perbincangan dengan Sutanto, budayawan yang juga Presiden Lima Gunung sekaligus Raja Kerajaan Mendut, saya justru diajak menengok sosok lain yang lebih subtil: Durmogati.
Baca juga:
Bukan Hanya Manusia yang MenariDalam gaya tutur khasnya—yang berputar ke kanan dan kiri seperti irama Gemu Fa Mi Re dari Maumere—Mas Tanto mengingatkan bahwa plonga-plongo bukan sekadar kebodohan. Durmogati, kata beliau, adalah figur yang lucu tanpa niat melucu. Wajahnya lurus, dagunya menatap ke depan, tetapi pikirannya sering tertidur sebelum sempat bekerja. Ia mudah dibisiki, gampang ditunggangi, entah oleh kebodohan yang tampak polos atau kecerdasan yang berwatak jahat.
Di titik inilah Durmogati menjadi menarik. Ia bukan oportunis, bukan pula pengkhianat. Ia ambigu. Liminal. Abu-abu. Sosok yang hadir justru ketika dunia terjebak dalam polarisasi hitam-putih. Ia bisa berdiri di pihak ksatria, tetapi tetap hidup dalam sistem yang menuntut kepatuhan. Ia memihak nurani, namun tak selalu punya kuasa untuk melawan.
Saya berterima kasih atas ikhtiar Mas Tanto yang bersusah-payah mengingatkan saya pada figur ini. Meski begitu, demi kehati-hatian di negeri yang kadang alergi pada metafora, sebagian tanggapan beliau terpaksa saya sensor. Bukan karena kurang hormat, melainkan agar tulisan ini tetap tinggal di ranah budaya—bukan urusan aparat.
Menariknya, dalam dunia pewayangan, hampir tak ada tokoh yang sendirian. Nakula punya Sadewa. Citraksi punya Citraksa. Bahkan Kak Seto—konon—punya Kak Kresno. Maka masuk akal bila Durmogati pun memiliki saudara kembar: Durmogempa. Sosok yang jarang disebut, tetapi setia mendampingi. Apakah ia ikut gugur di Bharatayuddha, atau lenyap tanpa jejak, saya tak tahu. Dunia wayang, seperti dunia nyata, tak selalu rajin mencatat nasib mereka yang tak gemar tampil.
Mungkin di situlah pelajarannya. Dunia ini sering kita karang seperti buaya di piring: tampak besar dan mengerikan, padahal isinya tak lebih dari lele dumbo. Dalam kekacauan narasi dan kebisingan opini, sosok plonga-plongo seperti Durmogati justru mengingatkan kita bahwa tidak semua orang harus lantang, licin, dan penuh strategi.
Ada kalanya menjadi polos—meski berisiko ditunggangi—adalah cermin paling jujur dari dunia yang terlalu sibuk berpura-pura tahu segalanya.