Loading
Dosen Tetap Universitas Bung Karno (UBK) sekaligus Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto (kiri atas) memberikan kuliah umum bertajuk ‘Pemikiran Geopolitik Bung Karno, dalam rangka Ulang Tahun Universitas Bung Karno ke-27’, di Aula Ir. Soekarno, UBK, Jakarta, Kamis (11/6/2026). ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto menjadikan pemikiran geopolitik Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sebagai salah satu rujukan dalam diplomasi internasional Indonesia untuk membantu meredakan berbagai konflik dunia.
Menurut Hasto, konsep yang ia sebut sebagai “Siklus Geopolitik Soekarno” masih relevan digunakan dalam menghadapi tantangan global saat ini, termasuk konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.
Gagasan tersebut disampaikan Hasto saat memberikan kuliah umum bertajuk Pemikiran Geopolitik Bung Karno dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-27 Universitas Bung Karno (UBK), yang digelar di Aula Ir. Soekarno, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
“Jika Presiden Prabowo ingin memosisikan Indonesia sebagai fasilitator perdamaian atau peace facilitator bagi persoalan Timur Tengah, maka siklus geopolitik Bung Karno ini dapat dijadikan acuan,” ujar Hasto.
Siklus Geopolitik Soekarno
Dosen tetap UBK tersebut menjelaskan bahwa pemikiran geopolitik Bung Karno bukanlah gagasan yang berdiri sendiri, melainkan sebuah siklus yang terstruktur dan dapat diterapkan untuk menghadapi dinamika kawasan maupun global.
Tahap pertama dalam siklus tersebut adalah merumuskan kepentingan nasional (national interest) secara jelas dan tegas.
Baca juga:
Prabowo Hadiri Jamuan Kenegaraan di Istana Elysee, Macron Sambut Hangat Delegasi IndonesiaTahap berikutnya adalah meningkatkan keterlibatan Indonesia dalam percaturan global melalui diplomasi aktif, kerja sama internasional, serta upaya membangun tatanan hukum internasional yang lebih adil.
Selanjutnya, diplomasi tersebut diperkuat melalui diplomasi pertahanan yang mampu menciptakan efek penangkal (deterrent effect) dan memperkuat posisi strategis Indonesia di mata dunia.
“Melalui diplomasi, kita membangun kerja sama internasional sekaligus berkontribusi dalam pembentukan hukum internasional. Setelah itu, diplomasi pertahanan memperkuat posisi dan postur pertahanan nasional,” jelasnya.
Bisa Diterapkan di Timur Tengah hingga Semenanjung Korea
Hasto menilai pendekatan tersebut tidak hanya relevan untuk membantu meredakan konflik di Timur Tengah, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai kawasan yang masih menghadapi ketegangan geopolitik, seperti Semenanjung Korea dan Selat Taiwan.
Menurutnya, keterlibatan Indonesia dalam berbagai upaya perdamaian internasional harus tetap berpijak pada kepentingan nasional sehingga menghasilkan manfaat konkret bagi bangsa.
Ia mencontohkan, jika Indonesia turut berperan dalam meredakan ketegangan di Semenanjung Korea, maka hubungan diplomatik yang terbangun dapat membuka peluang kerja sama strategis.
“Dari Korea Selatan, Indonesia bisa memperoleh transfer teknologi untuk mempercepat pembangunan industri nasional. Sementara dari Korea Utara, kita dapat membangun pemahaman strategis yang lebih baik,” katanya.
Gagasan KAA Plus untuk Timur Tengah
Lebih lanjut, Hasto mengusulkan agar Presiden Prabowo mempertimbangkan penyelenggaraan konferensi internasional baru yang dipersiapkan secara matang, sebagaimana Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955 yang digagas Bung Karno.
Menurutnya, Indonesia dapat menginisiasi forum baru yang berfungsi sebagai ruang dialog dan mediasi bagi negara-negara yang terlibat konflik di Timur Tengah.
Ia menyebut gagasan tersebut sebagai semangat “KAA Plus”, yakni upaya menghadirkan kembali peran Indonesia sebagai jembatan perdamaian dunia.
Hasto juga menekankan pentingnya memperhatikan detail teknis diplomasi atau yang dikenal sebagai the art of diplomacy. Menurutnya, keberhasilan KAA pada masa Bung Karno tidak hanya ditentukan oleh visi politik yang besar, tetapi juga oleh persiapan yang sangat rinci.
“Bung Karno mempersiapkan KAA secara matang. Bahkan mahasiswa dilibatkan untuk menyambut dan melayani para delegasi dengan penuh penghormatan. Itu merupakan bagian dari seni diplomasi Indonesia,” ujarnya.
Dengan pendekatan seperti itu, para delegasi diharapkan merasa dihargai sehingga setiap kesepakatan yang dihasilkan memiliki legitimasi dan pengakuan yang kuat dari komunitas internasional.
Pentingnya Menghidupkan Pemikiran Pendiri Bangsa
Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga mengajak perguruan tinggi untuk terus menggali dan mengembangkan pemikiran para pendiri bangsa sebagai bagian dari penguatan karakter nasional.
Ia menilai pemikiran strategis Bung Karno sempat kurang mendapat perhatian dalam beberapa dekade terakhir, sehingga perlu kembali dihadirkan dalam ruang-ruang akademik dan diskusi publik.
“Universitas Bung Karno harus terus menggelorakan semangat untuk menggali pemikiran para pendiri bangsa. Kita tidak boleh menjauh dari sejarah maupun gagasan besar yang telah diwariskan kepada bangsa ini,” tegasnya dikutip Antara.
Kuliah umum tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Anggota DPR RI Fraksi PDIP Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, Once Mekel, Sofyan Tan, Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno Muhammad Marhaendra Putra, serta sivitas akademika Universitas Bung Karno.