Loading
Sexting di kalangan remaja (Net)
KEMAJUAN teknologi, pasti melahirkan dampak atau efek sosial dalam pergaulan. Kemudahan sarana canggih ini, memang dihadirkan untuk mempermudah komunikasi dan kehidupan masyarakat modern.
Namun efek buruknya pun, terkadang menyertai. Salah satu yang sangay populer adalah kebiasaan sexting. Sexting adalah tindakan mengirim SMS, foto, maupun video cabul lewat HP (ponsel). Makin modernya gaya hidup, 'kebiasaan' malah dikatakan lumrah dan wajar, seiring makin mudahnya orang menggunakan gadget.
Kenapa banyak yang melakukannya? Dalam koran The New York Times, seorang pengacara senior mengatakan bahwa bagi anak remaja, punya foto bugil pacar adalah bukti bahwa kehidupan seks mereka normal. Seorang remaja bahkan menyebutnya ”seks aman” karena menurut dia, ”sexting enggak akan bikin orang hamil atau tertular penyakit kelamin”.
Apa risikonya ber-sexting?Begitu suatu foto terkirim lewat HP, pengirimnya tak lagi punya kendali atas foto itu. Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa seandainya foto itu merusak reputasi kita. Dalam laporannya tentang sexting, Amanda Lenhart, seorang peneliti senior di Pusat Riset Pew menulis, ”Sekarang jadi gampang sekali menyimpan atau menyebarkan bukti dari perilaku yang tidak pantas.”Dalam kasus-kasus tertentu, orang yang dikirimi foto bugil menyebarluaskannya sebagai bahan untuk seru-seruan. Malah beberapa anak lelaki menyebarkan foto bugil mantannya untuk balas dendam karena merasa dicampakkan.
Hal-hal lain yang perlu diketahui tentang Sexting
Wanita lebih banyak melakukan sextingKebanyakan dari kita mungkin berpikir jika laki-laki yang melakukan sexting, namun nyatanya tidak demikian. Dalam sebuah penelitian, 60 persen perempuan mengaku secara gamblang melakukan sexting dengan pasangan. Bahkan, di beberapa negara, presentase perempuan yang melakukan sexting jauh lebih besar dibanding laki-laki.
Pelaku sexting mayoritas remajaKebanyakan perempuan melakukan sexting saat remaja. 40 persen dari mereka mengaku melakukan hal tersebut untuk memacu adrenalin, 35 persen lagi mengaku mereka melakukan sexting karena merasa bangga dengan kemolekan tubuhnya. Adapun 12 persen sisanya mengaku melakukan sexting karena dorongan dari teman-teman sepermainannya. Setelah dewasa, barulah mereka sadar dan memutuskan untuk berhenti melalukan sexting.
Sexting bisa dikategorikan tindak kejahatanMengirimkan foto setengah telanjang dan telanjang merupakan bentuk kejahatan yang dapat dikenai hukuman. Terutama bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun, mengirim atau menerima konten-konten seksual melalui ponselnya dapat dikenai hukuman penjara, seperti di Arab Saudi. Sayangnya, di Indonesia belum diberlakukan hukuman tersebut.
Sexting bukanlah komunikasi yang sehatKebanyakan laki-laki berpikir bahwa seorang perempuan yang mengirim pesan, perempuan tersebut sudah pasti tertarik dengan dirinya. Hal tersebut ternyata salah besar. Jika seorang perempuan mengirimkan pesan, hal tersebut berarti dirinya ingin berkomunikasi, tidak lebih. Berlaku juga bagi perempuan yang mengirim pesan terlebih dahulu. Bukan berarti tertarik, perempuan tersebut hanya ingin berkomunikasi. Akan jauh lebih baik jika komunikasi yang dibangun tidak dihias dengan pesan berbau seksual, foto atau bahkan video erotis. Jalinlah komunikasi yang sehat.
Beragam pesan dalam sextingLebih dari 40 persen laki-laki cenderung mengirimkan pesan cabul kepada pasangan, sementara sekitar 35 persen perempuan memilih untuk mengirim foto atau video.