Loading
Mitos dan fakta soal menentukan jenis kelamin (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Mungkin tadinya hanya mitos. Namun lantaran banyak didiskusikan orang, khususnya kaum perempuan, anggapan bahwa jenis kelamin bayi bisa ditentukan, menjadi kebenaran yang banyak diyakini. Apalagi masyarakat Indonesia, umumnya mendambakan anak pertama berjenis kelamin laki-laki. Memang banyak mitos seputar kehamilan yang beredar turun temurun dan dipercaya sebagian Bunda di Indonesia, termasuk salah satunya tentang spekulasi menentukan jenis kelamin bayi yang ada di kandungan.
Secara keyakinan, kepasrahan pada Tuhan tetap menjadi pedoman para pasangan suami istri. Namun, keinginan untuk mendapatkan anak sesuai jenis kelamin yang diharapkan, membuat sebagian pasutri melakukan berbagai cara, termasuk dalam hal berhubungan seks.
Jeffrey Steinberg, MD, direktur program seleksi gender di Fertility Institutes in Los Angeles mengatakan orang-orang telah berusaha mencari tahu selama berabad-abad, tetapi benar-benar tidak ada posisi bercinta yang dapat mempengaruhi jenis kelamin bayi.
Mitos soal jenis kelamin bayi
Selain posisi seks, adalagi anggapan bahwa makanan pun bisa menentukan jenis kelamin bayi. Mitos ini juga dijalani oleh pasangan dengan harapan yang sama. Dengan mengonsumsi daging dan makanan asin konon bisa membuat pasutri mendapatkan anak laki-laki. Mengonsumsi banyak makanan penutup pun konon bisa mendapatkan seorang anak perempuan.Dalam posisi seks, ada pula mitos untuk bercinta pada posisi berdiri ketika seperempat bulan apabila menginginkan seorang putra. Ada pula mitos untuk bercinta pada posisi misionaris ketika bulan purnama mendapatkan seorang anak perempuan.Ada pula Kalender Cina yang berumur 700 tahun yang memberi tahu wanita tanggal mana yang akan menghasilkan konsepsi anak laki-laki atau perempuan, berdasarkan usia ibu dan bulan konsepsi. Tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa semua ini berhasil.
Anjuran soal penetuan jenis kelamin bayi
Meskipun demikian, pemilihan jenis kelamin telah menjadi bisnis besar. Saat ini, banyak promosi kehamilan yang memungkinkan pasangan untuk mendapatkan keinginan mereka.
Sebagai contoh, Dr. Shettles menyarankan pasangan yang mencari anak laki-laki untuk melakukan hubungan seks sedekat mungkin dengan ovulasi, karena saat itulah cairan vagina dan serviks wanita cenderung menjadi yang paling basa, suatu kondisi yang membuat konsepsi paling menguntungkan bagi mereka yang memiliki sperma Y yang kurang sehat.
Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh New England Journal of Medicine melaporkan bahwa tidak ada hubungan antara waktu hubungan seksual dan jenis kelamin bayi.
"Benar-benar tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memilih jenis kelamin bayi," simpul Dr. Steinberg.
Jika benar-benar bertekad untuk memiliki seorang anak perempuan, ada dua prosedur medis berteknologi tinggi yang melibatkan penyortiran sperma atau embrio yang lebih menjanjikan, tetapi etikanya masih diperdebatkan.
Mendeteksi jenis kelamin bayi
Ultrasonografi (USG), tes amniosentesis, pemeriksaan vili korionik (bagian dari jaringan plasenta di mana terdapat DNA bayi), hingga tes DNA darah ibu adalah cara akurat untuk mendeteksi jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungan. Pemeriksaan USG untuk menentukan jenis kelamin bayi dapat dilakukan sejak usia kehamilan 18-20 minggu. Tergantung dari posisi tubuh janin di dalam kandungan, tingkat akurasi mencapai 80-90%. Pemeriksaan DNA, termasuk pemeriksaan amniosentesis dan vili korionik, adalah pemeriksaan yang tidak rutin dilakukan karena mahal dan hanya tersedia di laboratorium khusus.
Kendati demikian, jauh sebelum teknologi tersebut muncul, banyak tanda-tanda yang dipercaya sebagian orang dalam menentukan atau menebak jenis kelamin sang buah hati. Mitos tersebut merebak turun temurun di kalangan masyarakat yang hingga kini masih dipercaya sebagian orang.
Banyak pasangan yang mencari tahu jenis kelamin bayi mereka, bahkan saat usia kandungan yang sangat dini. Padahal seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, jenis kelamin baru bisa diketahui pada usia kandungan 18 hingga 20 minggu, itupun kalau posisi si kecil di perut memungkinkan.
Elizabeth Pryor, MD, FACOG bahkan pernah diminta mengetahui jenis kelamin berdasarkan detak jantung janin. Padahal, hal itu adalah mitos dan belum terbukti secara ilmiah kalau hal ini benar.
Yang lain lagi menggunakan tes pendulum. Bandul diayunkan di atas perut hamil dan jenis kelamin bayi konon terungkap bergantung pada cara pendulum itu berayun.
Diet spesifik yang bisa menentukan jenis kelamin
Selain mitos dan tanda-tanda ilmiah saat hamil, ada banyak perdebatan tentang cara yang dapat meningkatkan kemungkinan memiliki bayi dengan jenis kelamin tertentu. Misalnya, anjuran diet spesifik untuk mengonsumsi makanan asam dapat membantu mengandung bayi laki-laki, dan makanan basa untuk membantu hamil anak perempuan. Faktanya, tidak ada bukti ilmiah dalam anjuran ini. Makanan bervariasi dan bergizi sangat penting untuk kesehatan ibu dan bayi, membatasi asupan nutrisi atau menjalani diet tertentu saat hamil bukanlah ide bagus. Dan tidak ada bukti ilmiah terkait anjuran rutin berhubungan seks sebelum masa ovulasi agar mengandung bayi perempuan, kendati ini didasarkan pada fakta bahwa sperma jenis kelamin bayi perempuan tampaknya bertahan lebih lama dari sperma jenis kelamin bayi laki-laki. Begitupun dengan mitos berhubungan seks setelah masa ovulasi cenderung akan menghasilkan janin laki-laki.
Manusia dilahirkan dengan 46 kromosom sebanyak 23 pasang. Kromosom X dan Y menentukan jenis kelamin seseorang. Normalnya, kromosom wanita adalah 46XX dan kromosom pria adalah 46XY. Jenis kelamin bayi dalam kandungan diatur segera setelah sperma bertemu sel telur dalam proses pembuahan. Alat kelamin janin belum berkembang di masa awal kehamilan hingga 6 minggu kehamilan.
Umumnya, pada usia kehamilan 4 atau 5 minggu, dokter dapat mendeteksi jenis kelamin bayi dalam kandungan Bunda dengan beberapa tes prenatal seperti USG, amniosentesis, serta pemeriksaan lainnya. Posisi bayi saat pemeriksaan USG adalah aspek terpenting dalam mendeteksi jenis kelamin bayi, terlebih untuk memastikan bahwa bayi yang dikandung adalah bayi laki-laki.
Cara yang paling akurat untuk menentukan jenis kelamin bayi di dalam kandungan adalah dengan pemeriksaan DNA. Pemeriksaan ini dapat menentukan jenis kelamin bayi mulai usia kehamilan sekitar 9 minggu. Dalam dunia medis, tujuan utama pemeriksaan DNA bayi sebenarnya bukanlah untuk mengetahui jenis kelamin bayi, tetapi untuk mendeteksi apakah terdapat kelainan bawaan pada janin yang dikandung untuk menentukan apakah bayi sehat atau tidak. Pemeriksaan ini belum rutin dilakukan karena harganya yang mahal dan tidak tersedia di seluruh daerah. Dan tidak kalah penting, untuk mencari tahu jenis kelamin dan tentunya menjaga kesehatan Ibu dan Janin, lakukanlah kontrol kehamilan secara rutin pada dokter atau bidan untuk mendapat pemeriksaan, informasi, dan suplemen prenatal yang berguna untuk menunjang kehamilan yang optimal.
Sekali lagi, tidak ada bukti yang terdokumentasi bahwa tes ini berfungsi. Oleh karena itu, jangan frustrasi jika dokter tidak tahu apa jenis kelamin bayi dengan USG. Belilah pakaian warna-warna netral agar aman!