Loading
Mom Perlu Pahami Pola Tidur Bayi Baru Lahir hingga Usia 1 Tahun. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Banyak orang tua merasa cemas ketika bayi mereka tidak juga tidur sepanjang malam, terutama saat melihat bayi lain tampak bisa tidur lebih lama. Padahal, pola tidur bayi berubah sangat cepat dalam dua tahun pertama kehidupan dan kondisi yang dianggap normal bisa berbeda pada setiap anak dan keluarga.
Memahami pola tidur bayi berdasarkan usia dapat membantu orang tua mengurangi kekhawatiran serta membangun harapan yang lebih realistis. Pada bulan-bulan awal, pola tidur bayi memang sangat berbeda dari orang dewasa. Siklus tidur bayi lebih pendek, fase tidur ringan lebih dominan, dan bayi lebih sering terbangun di antara siklus tidur tersebut.
Istilah tidur sepanjang malam juga sering disalahartikan. Bagi banyak ahli, tidur malam pada bayi berarti tidur tanpa terbangun selama sekitar enam hingga delapan jam, bukan tidur penuh sepuluh hingga dua belas jam seperti yang kerap dibayangkan orang dewasa. Seiring bertambahnya usia dan matangnya sistem saraf serta ritme sirkadian, durasi tidur bayi akan meningkat secara bertahap.
Pada bayi baru lahir, dikutip dari Medical Daily, bangun setiap dua jam merupakan kondisi yang sangat umum, terutama untuk kebutuhan menyusu. Pola ini mendukung pertumbuhan, membantu menjaga produksi ASI, serta mencerminkan sistem tidur yang masih berkembang. Selama bayi menunjukkan kenaikan berat badan yang baik dan tampak sehat di sela-sela waktu menyusu, pola bangun malam seperti ini biasanya masih tergolong normal.
Namun, orang tua disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika bayi bangun jauh lebih sering dari dua jam, tampak sangat rewel, atau justru sulit dibangunkan untuk menyusu. Di luar kondisi tersebut, sering terbangun pada fase awal kehidupan umumnya bukan tanda gangguan tidur.
Memasuki usia tiga hingga empat bulan, sebagian bayi mulai menunjukkan pola tidur yang lebih teratur. Waktu tidur siang dan malam perlahan menjadi lebih konsisten, meski belum bisa disebut sebagai jadwal yang kaku. Pada fase ini, rutinitas tidur sederhana dan konsisten dapat membantu bayi mengenali waktu istirahat, meski orang tua tetap disarankan mengikuti isyarat kantuk bayi dibandingkan terpaku pada jam tertentu.
Pada usia sekitar lima bulan, sebagian bayi sudah mampu tidur lebih lama di malam hari, namun tidak sedikit yang masih terbangun untuk menyusu. Faktor seperti pola pemberian makan, lingkungan tidur, serta temperamen bayi sangat memengaruhi hal ini. Banyak bayi di usia ini masih membutuhkan setidaknya satu kali menyusu pada malam hari, sehingga bangun malam masih dianggap wajar.
Memasuki usia delapan bulan, bayi yang sebelumnya tidur lebih nyenyak bisa kembali sering terbangun. Kondisi ini kerap berkaitan dengan kecemasan perpisahan, perkembangan keterampilan baru, serta perubahan pola tidur siang. Fase ini biasanya bersifat sementara dan akan membaik seiring waktu, terutama jika orang tua tetap konsisten dalam rutinitas dan respons terhadap bayi.
Saat menginjak usia satu tahun, banyak anak sudah mampu tidur sepanjang malam, tetapi sebagian lainnya masih terbangun sesekali karena tumbuh gigi, mimpi buruk, atau membutuhkan rasa aman. Selama anak tumbuh dengan baik, aktif di siang hari, dan tidak menunjukkan tanda gangguan kesehatan, terbangun malam pada usia ini masih tergolong normal.
Pada balita, terbangun malam yang tiba-tiba dapat dipicu oleh perubahan emosional, lonjakan perkembangan, atau peristiwa besar seperti mulai masuk penitipan anak atau kehadiran adik baru. Faktor seperti jadwal tidur siang, kelelahan berlebihan, serta rutinitas tidur yang tidak konsisten juga dapat memengaruhi kualitas tidur malam.
Secara umum, terbangun di malam hari adalah bagian dari perkembangan normal bayi dan balita. Bahkan orang dewasa pun sebenarnya terbangun singkat di antara siklus tidur, hanya saja anak-anak sering membutuhkan bantuan untuk kembali terlelap. Terbangun yang normal biasanya singkat dan diikuti tidur kembali setelah kebutuhan dasar terpenuhi.
Orang tua perlu waspada jika terbangun malam disertai tanda seperti mendengkur keras, gangguan pernapasan, kegelisahan ekstrem yang menetap, atau waktu tidur yang sangat terbatas hingga mengganggu aktivitas siang hari. Dalam kondisi tersebut, konsultasi dengan dokter anak atau spesialis tidur sangat dianjurkan.
Mendukung pola tidur bayi yang sehat dapat dilakukan dengan rutinitas tidur yang menenangkan dan konsisten, seperti meredupkan lampu, bermain dengan tenang, mandi, atau membacakan cerita. Lingkungan tidur yang aman, gelap, dan nyaman juga berperan penting. Penyesuaian pola tidur bayi umumnya berlangsung bertahap, dan perubahan kecil sering kali memberikan dampak besar seiring waktu.