Senin, 26 Januari 2026

Pentingnya Membekali Anak Sebelum Diizinkan Bermain di Luar Rumah


 Pentingnya Membekali Anak Sebelum Diizinkan Bermain di Luar Rumah Manfaat anak bermain di luar ruangan yang jarang disadari orang tua. (Foto: iStock/Haibunda)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Bermain di luar rumah memang menjadi bagian penting dari tumbuh kembang anak. Namun, sebelum orang tua mengizinkan anaknya untuk bermain di luar, ada sejumlah hal krusial yang perlu diperhatikan. Psikolog anak dan keluarga, Sani B. Hermawan, menekankan pentingnya pembekalan pemahaman kepada anak agar aktivitas bermain tetap aman dan mendidik.

“Anak perlu diberi arahan tentang hal-hal dasar, misalnya larangan menyeberang jalan sembarangan atau ketika bola terlempar ke luar pagar, mereka harus meminta bantuan orang dewasa,” ujar Sani saat ditemui di Jakarta, Senin (7/7/2025).

Awali dengan Pendampingan dan Pengawasan

Untuk anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD), pendampingan di tahap awal sangat disarankan. Orang tua perlu memantau langsung bagaimana anak berinteraksi di luar, terutama saat baru belajar mandiri. Jika anak dinilai sudah memahami aturan dan bisa menjaga diri, pendampingan bisa dikurangi secara bertahap.

Sedangkan untuk anak yang telah menginjak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), tetap penting bagi orang tua memberikan batasan yang jelas, terutama terkait jam bermain, lokasi, dan dengan siapa mereka bermain.

“Penting ada aturan yang disepakati bersama. Termasuk pemberlakuan jam malam dan kewajiban anak untuk melaporkan aktivitasnya kepada orang tua,” jelas Sani yang juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani.

Kenali Lingkungan Sekitar Sebelum Mengizinkan Anak Bermain

Sebelum memberi izin anak bermain di luar, orang tua harus memahami kondisi lingkungan tempat tinggal mereka. Apakah ada potensi bahaya seperti gorong-gorong terbuka, jalanan licin, atau area yang rawan kecelakaan?

“Orang tua harus tahu karakter lingkungan di sekitar rumah. Ini penting agar bisa menentukan radius aman dan waktu bermain yang ideal bagi anak,” katanya.

Sani juga menyoroti fenomena yang kini kerap terjadi: anak-anak yang masih sangat kecil dibiarkan bermain sendiri di luar rumah saat malam hari tanpa pengawasan. Menurutnya, kondisi tersebut justru bertentangan dengan prinsip keselamatan anak.

Anak Butuh Ruang Bermain yang Aman dan Menyenangkan

Sani menegaskan bahwa membiarkan anak bermain di luar tidak berarti melepas mereka sepenuhnya tanpa kontrol. Anak tetap bisa menikmati permainan tradisional seperti kelereng atau congklak bersama teman sebaya, asal berada dalam lingkungan yang aman dan terpantau.

Ia mengingatkan, anak-anak yang bermain hanya dengan teman seumurannya sering kali belum mampu saling membantu saat terjadi hal buruk. Oleh karena itu, keberadaan orang dewasa atau pengawasan dari jauh tetap penting.

“Anak tetap butuh ruang bermain di luar rumah. Tapi orang tua juga harus bijak menilai apakah kondisi lingkungan tersebut benar-benar aman,” tegasnya.

Orang Tua Perlu Aktif, Bukan Overprotektif

Meski kekhawatiran orang tua makin meningkat seiring banyaknya kasus kekerasan atau kecelakaan di ruang publik, bukan berarti anak harus dikurung di dalam rumah. Yang lebih bijak adalah mengenalkan batasan dan tanggung jawab, serta memastikan anak tahu cara menjaga diri sendiri.

“Bukan berarti karena ada banyak kejadian, anak harus selalu di rumah. Justru orang tua perlu belajar apa yang boleh dan tidak boleh, lalu mengkomunikasikannya dengan anak,” tutup Sani dikutip dari Antara.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Parenting Terbaru