Honda Rugi untuk Pertama Kalinya Sejak 1957, Beban Bisnis Mobil Listrik Jadi Pemicu


 Honda Rugi untuk Pertama Kalinya Sejak 1957, Beban Bisnis Mobil Listrik Jadi Pemicu Sejumlah pengunjung melihat pameran bertajuk Honda Berkah di Atrium Tunjungan Plaza 3, Surabaya, Rabu (4/3/2026) malam. ANTARA/Naufal Ammar Imaduddin

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perusahaan otomotif Jepang Honda mencatat kerugian tahunan untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa saham pada 1957. Kondisi ini dipicu tingginya biaya pengembangan dan restrukturisasi bisnis kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Dalam laporan tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, Honda membukukan rugi operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar Rp45,9 triliun. Angka tersebut berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya ketika perusahaan masih mencatat laba hingga 1,2 triliun yen.

Tekanan terbesar datang dari lini kendaraan listrik. Sepanjang tahun fiskal tersebut, Honda menanggung beban bisnis EV mencapai 1,45 triliun yen atau sekitar Rp160,8 triliun. Bahkan, perusahaan memperkirakan masih harus mengeluarkan tambahan biaya sekitar 500 miliar yen pada tahun fiskal berikutnya untuk menopang pengembangan sektor tersebut.

Meski menghadapi tekanan besar, Honda tetap optimistis dapat kembali mencetak keuntungan pada tahun ini. Perusahaan menargetkan laba sekitar 500 miliar yen melalui strategi efisiensi biaya dan penguatan bisnis sepeda motor yang saat ini menjadi salah satu penyumbang penjualan terbesar perusahaan secara global.

CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengungkapkan bahwa perusahaan juga mulai meninjau ulang sejumlah target ambisius di sektor kendaraan listrik.

Honda kini membatalkan target sebelumnya yang ingin menjadikan mobil listrik sebagai seperlima dari total penjualan kendaraan baru pada 2030. Tidak hanya itu, perusahaan juga mulai mundur dari rencana untuk sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik dan fuel cell pada 2040 dikutip Antara..

Langkah penyesuaian strategi tersebut turut berdampak pada proyek besar Honda di Kanada. Perusahaan memutuskan menunda proyek kendaraan listrik senilai 9 miliar euro atau sekitar Rp183 triliun tanpa batas waktu yang ditentukan.

Proyek tersebut sebelumnya dirancang sebagai pusat produksi kendaraan listrik dan baterai secara lokal di Canada. Penundaan ini dinilai menjadi sinyal bahwa persaingan industri EV global semakin menantang, terutama di tengah tingginya biaya investasi dan melambatnya permintaan di sejumlah pasar.

Di sisi lain, keputusan Honda menunjukkan bahwa produsen otomotif global kini mulai lebih berhati-hati dalam mempercepat transisi menuju kendaraan listrik penuh.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Otomotif Terbaru