Senin, 26 Januari 2026

Persaingan Harga Ketat, Renault Tunda Masuk Pasar Otomotif China


 Persaingan Harga Ketat, Renault Tunda Masuk Pasar Otomotif China Mobil konsep Renault Embleme. (Renault.co.uk)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Produsen otomotif asal Prancis, Renault, memastikan belum memiliki rencana untuk kembali memasarkan mobil di China dalam waktu dekat. Alih-alih masuk ke persaingan pasar domestik Negeri Tirai Bambu, perusahaan memilih memperdalam kolaborasi dengan ekosistem industri China guna memperkuat penjualan kendaraan di pasar global.

CEO Renault François Provost menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi industri otomotif China yang saat ini diwarnai kompetisi harga sangat ketat. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi menekan profitabilitas seluruh pelaku industri.

“Pasar otomotif China saat ini berada dalam tekanan persaingan harga yang ekstrem. Jika kami kembali menjual mobil di sana sekarang, risikonya bisa merugikan semua pihak,” ujar François Provost dalam wawancara dengan China Late Post, Sabtu (24/1/2026). 

Pernyataan itu disampaikan Provost saat kunjungannya ke China pada Juli 2025, yang juga menjadi lawatan perdananya sejak resmi menjabat sebagai CEO Renault. Meski tidak kembali berjualan di pasar domestik China, ia menegaskan bahwa peran negara tersebut tetap krusial dalam strategi jangka panjang Renault.

Renault diketahui telah menghentikan sejumlah proyek usaha patungan di China sejak 2020, termasuk kerja sama dengan Dongfeng dan Brilliance. Namun, Provost menilai China tetap menjadi pusat penting dalam pengembangan teknologi dan rantai pasok global perusahaan.

“Kami tetap berkomitmen berinvestasi untuk menjaga diferensiasi produk dan memperkuat aset merek berbasis teknologi, meski terintegrasi secara mendalam dengan ekosistem industri China,” katanya.

Provost juga menyoroti agresivitas produsen otomotif China yang kini gencar berekspansi ke berbagai pasar internasional. Menurutnya, kondisi tersebut akan meningkatkan persaingan global, termasuk di Eropa dan Amerika Latin.

Salah satu mitra strategis Renault di China adalah Geely. Ia menyebut hubungan kedua perusahaan berjalan searah dan saling menguntungkan. Saat ini, Renault dan Geely mengelola perusahaan patungan Horse Powertrain dengan kapasitas produksi hingga lima juta unit sistem penggerak per tahun.

Selain itu, kedua perusahaan juga memproduksi kendaraan bermerek Renault di Korea Selatan serta menjalin kerja sama pengembangan dan produksi di Brasil.

Dalam menghadapi transisi energi, Provost menjelaskan Renault tengah mempercepat adopsi kendaraan listrik, khususnya di pasar Eropa. Untuk mendukung langkah tersebut, perusahaan mengeksplorasi teknologi range extender dan kendaraan plug-in hybrid paralel.

“Berbagi teknologi elektrifikasi dengan Geely memungkinkan kami mempercepat pengembangan kendaraan energi baru dengan struktur biaya yang lebih efisien,” ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi “local-for-global”, Renault telah mendirikan pusat riset dan pengembangan di China sejak 2024. Pendekatan ini bertujuan memanfaatkan keunggulan rantai pasok China untuk menghasilkan produk global, salah satunya proyek pengembangan Renault Twingo generasi terbaru.

Provost menegaskan, meski tidak kembali menjual mobil di China dalam waktu dekat, negara tersebut akan tetap menjadi elemen strategis dalam ekspansi global Renault ke depan.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Otomotif Terbaru