Tangkapan layar Robert Smith. (ANTARA/Instagram robertsmith)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Rencana menghadirkan halftime show untuk pertama kalinya pada final Piala Dunia FIFA 2026 terus memicu perdebatan. Kali ini, vokalis legendaris The Cure, Robert Smith, ikut menyuarakan penolakannya terhadap konsep tersebut.
Menurutnya, laga final Piala Dunia seharusnya tetap mempertahankan tradisi sepak bola tanpa diselingi pertunjukan hiburan bergaya Super Bowl.
Robert Smith mengkritik rencana penyelenggaraan halftime show pada final Piala Dunia FIFA 2026 yang akan menjadi yang pertama dalam sejarah turnamen tersebut.
Mengutip Variety, Sabtu (18/7/2026), Smith menyampaikan pandangannya melalui akun Instagram. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak sepakat dengan konsep menghadirkan pertunjukan musik saat jeda pertandingan final.
Dalam unggahan lanjutan, pelantun lagu-lagu The Cure itu meluruskan bahwa kritiknya bukan ditujukan kepada para artis yang akan tampil. Ia justru mempersoalkan ide di balik penyelenggaraan halftime show di pertandingan paling bergengsi dalam sepak bola dunia.
"Saya berbicara tentang ide adanya halftime show di final Piala Dunia," tulis Smith.
Final Piala Dunia 2026 memang dirancang menghadirkan pertunjukan musik megah yang dikurasi oleh vokalis Coldplay, Chris Martin. Sejumlah nama besar dikabarkan akan tampil, mulai dari Madonna, Justin Bieber, Shakira, hingga BTS.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menyebut pertunjukan tersebut sebagai momen bersejarah yang menggabungkan sepak bola dan musik dalam satu panggung. Menurutnya, konsep ini diharapkan menjadi warisan baru yang dikenang melampaui pertandingan final itu sendiri.
Meski demikian, rencana tersebut juga memunculkan perdebatan soal durasi jeda pertandingan. BBC melaporkan halftime show sempat diperkirakan berlangsung hingga 25 menit, sementara regulasi sepak bola menetapkan waktu istirahat pemain maksimal hanya 15 menit.
Penyelenggara kemudian menjelaskan bahwa penampilan musik nantinya akan dibatasi sekitar 11 menit sehingga tidak mengganggu jalannya pertandingan.
Selain sederet musisi populer, pertunjukan itu juga akan menghadirkan konduktor ternama Gustavo Dudamel bersama anggota New York Philharmonic dan Simón Bolívar Symphony Orchestra of Venezuela. Penampilan mereka akan menjadi penghormatan bagi Venezuela yang baru-baru ini dilanda gempa bumi.
Perdebatan mengenai halftime show menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara upaya menghadirkan hiburan berskala global dengan keinginan mempertahankan tradisi sepak bola yang selama ini menjadi ciri khas Piala Dunia.