Loading
Petenis Serbia Novak Djokovic beraksi pada babak ketiga French Open 2026 melawan petenis Brasil Joao Fonseca di Philippe-Chatrier, Rolland Garros, Paris, Jumat (29/5/2026). ATP Tour/Corinne Dubreuil.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Roland Garros 2026 menghadirkan salah satu kejutan terbesar turnamen sejauh ini. Novak Djokovic harus mengakhiri perjalanannya lebih cepat setelah takluk dari petenis muda Brasil, Joao Fonseca, pada babak ketiga French Open, Sabtu (30/5/2026) WIB.
Dalam duel yang berlangsung selama empat jam 53 menit di Court Philippe-Chatrier, Djokovic yang telah mengoleksi 24 gelar Grand Slam gagal mempertahankan keunggulan dua set. Fonseca bangkit secara luar biasa dan membalikkan keadaan untuk menang 4-6, 4-6, 6-3, 7-5, 7-5.
Kemenangan tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam karier Fonseca yang baru berusia 19 tahun. Selisih usia 20 tahun dengan Djokovic tak membuatnya gentar menghadapi salah satu petenis terbaik sepanjang masa.
“Saya sebenarnya tidak percaya bisa menang. Saya hanya bermain dan menikmati berada di lapangan,” ujar Fonseca usai pertandingan.
“Sungguh luar biasa bisa bermain melawannya. Ini pertama kalinya saya bertemu Djokovic di lapangan dan saya sangat bersyukur serta bahagia,” lanjut petenis Brasil itu.
Fonseca nyaris tersingkir di set keempat. Saat tertinggal 3-4, ia menghadapi dua break point pada posisi 15/40 yang bisa saja mengakhiri pertandingan.
Namun, petenis unggulan ke-28 itu menunjukkan ketenangan luar biasa. Ia berhasil menyelamatkan kedua break point tersebut, mempertahankan servis, lalu perlahan membalik momentum untuk memaksa pertandingan berlanjut ke set penentuan.
Djokovic sempat terlihat mengalami kesulitan fisik di beberapa momen pertandingan. Meski demikian, petenis Serbia berusia 39 tahun itu tetap menunjukkan pengalaman dan mental juara dengan unggul 3-1 pada set kelima.
Keunggulan tersebut ternyata belum cukup.
Fonseca kembali menunjukkan daya juang tinggi. Ia memenangkan enam dari delapan gim terakhir untuk mengunci kemenangan sensasional yang membuat publik Paris terpukau.
Meski berhasil menyingkirkan idolanya, Fonseca tetap menunjukkan rasa hormat kepada Djokovic.
“Saya tidak terlalu memikirkan perubahan kondisi lapangan. Saya hanya mencoba memukul bola sekuat mungkin. Djokovic hampir tidak pernah melakukan kesalahan. Kita masih merasa dia seperti berusia 20 tahun,” kata Fonseca.
“Bahkan di akhir pertandingan saya merasa dia lebih bugar daripada saya. Itu sungguh luar biasa,” tambahnya.
Fonseca juga menilai kondisi lapangan yang semakin gelap pada penghujung pertandingan sedikit membantunya mengembangkan permainan.
“Ketika hari mulai gelap, permainan menjadi sedikit lebih lambat dan itu membantu saya menghasilkan tenaga yang lebih besar dalam pukulan,” ujarnya dikutip Antara.
Kemenangan atas Djokovic menambah daftar pencapaian mengesankan Fonseca dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, ia juga mencuri perhatian dunia tenis ketika mengalahkan Andrey Rublev di Australian Open 2025.
Lebih dari itu, Fonseca kini tercatat sebagai petenis remaja pertama yang mampu mengalahkan Djokovic di ajang Grand Slam.
Keberhasilan menembus babak keempat Roland Garros juga menjadi pencapaian terbaiknya di turnamen Grand Slam. Selanjutnya, ia akan menghadapi unggulan ke-15 Casper Ruud atau unggulan ke-24 Tommy Paul untuk memperebutkan tiket ke perempat final.
Secara statistik, pertandingan berlangsung sangat ketat. Fonseca menghasilkan 68 winner, hanya dua lebih sedikit dibandingkan Djokovic yang mencatat 70 winner.
Namun, petenis Brasil itu juga membuat lebih banyak unforced error, yakni 47 berbanding 39 milik Djokovic.
Perbedaannya terletak pada momen-momen penting. Saat tekanan mencapai puncaknya di akhir pertandingan, Fonseca mampu tampil lebih efektif. Ketika Djokovic berusaha memaksakan tie-break penentuan, Fonseca justru menutup laga dengan tiga ace beruntun yang memastikan kemenangan bersejarah.
Bagi Djokovic, kekalahan ini memiliki catatan tersendiri. Ini merupakan kali kedua dalam kariernya di Roland Garros ia kalah setelah lebih dulu unggul dua set. Sebelumnya, situasi serupa terjadi saat ia dikalahkan Jurgen Melzer pada edisi 2010.
Hasil ini sekaligus membuka semakin lebar persaingan menuju gelar Roland Garros 2026, setelah sebelumnya unggulan teratas Jannik Sinner juga tersingkir secara mengejutkan. Paris kini menanti apakah Joao Fonseca mampu melanjutkan dongeng indahnya atau justru menghadirkan kejutan yang lebih besar lagi.