Loading
Petenis Spanyol Carlos Alcaraz berlatih di lapangan tanah liat Monte-Carlo Masters di Monte-Carlo, Monako, Minggu (5/4/2026). (Monte-Carlo Tennis Masters)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Petenis muda Spanyol, Carlos Alcaraz, datang ke Monte-Carlo dengan satu misi besar: mempertahankan gelarnya sekaligus membuka musim lapangan tanah liat dengan penuh percaya diri.
Bagi Alcaraz, Monte-Carlo bukan sekadar turnamen. Ini adalah awal dari fase yang paling ia cintai dalam dunia tenis.
“Saya sangat senang bisa kembali ke Monte-Carlo. Ini turnamen pertama musim tanah liat bagi saya, dan rasanya luar biasa,” ujarnya, dikutip dari ATP, Senin (6/4/2026).
Monte-Carlo: Lebih dari Sekadar Turnamen
Atmosfer Monte-Carlo punya tempat spesial di hati Alcaraz. Ia bahkan mengaku merindukan sensasi bermain di lapangan tanah liat yang khas—lebih lambat, lebih taktis, dan menuntut kesabaran tinggi.
“Turnamen ini indah. Saya benar-benar merindukannya dan ingin menikmatinya semaksimal mungkin,” katanya.
Status sebagai juara bertahan pun tidak membuatnya terbebani. Justru, Alcaraz memilih fokus pada proses.
“Saya tidak terlalu memikirkan status juara bertahan. Saya hanya ingin terus berkembang di setiap latihan,” tambah petenis nomor satu dunia itu.
Titik Balik dari Tahun Lalu
Monte-Carlo 2025 menjadi momen penting dalam perjalanan karier Alcaraz. Saat itu, ia datang dengan kondisi kurang ideal setelah dua kekalahan beruntun. Namun, justru dari sinilah kebangkitannya dimulai.
Setelah turnamen tersebut, Alcaraz mencatat performa luar biasa dengan memenangi 33 dari 34 pertandingan berikutnya—sebuah lonjakan performa yang mengubah musimnya secara drastis.
“Monte-Carlo adalah titik balik saya. Dari sana, saya mulai memahami bagaimana seharusnya saya bermain,” ungkapnya.
Tanah Liat: Rumah bagi Alcaraz
Tak bisa dimungkiri, lapangan tanah liat adalah habitat alami Alcaraz. Ia tumbuh dan berkembang di permukaan ini sejak kecil.
“Saya mulai bermain tenis di tanah liat sejak usia empat tahun. Bahkan, saya hampir tidak menyentuh lapangan keras sampai usia delapan tahun,” jelasnya dikutip Antara.
Statistik pun membuktikan dominasi Alcaraz di clay. Ia mencatat 84,4 persen kemenangan, hanya kalah dari legenda seperti Rafael Nadal (90,5 persen) dan Bjorn Borg (86,1 persen).
Misi Bangkit Setelah Miami
Meski datang sebagai unggulan teratas, Alcaraz tetap punya pekerjaan rumah. Ia baru saja tersingkir di babak ketiga Miami Open setelah kalah dari Sebastian Korda.
Kini, Monte-Carlo menjadi panggung untuk kembali ke jalur kemenangan.
Dengan status bye di babak pertama, Alcaraz akan menghadapi pemenang antara Stan Wawrinka dan Sebastian Baez di babak kedua.
Turnamen Paling Indah di Tur
Bagi Alcaraz, Monte-Carlo bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga pengalaman visual dan emosional.
“Ini mungkin turnamen paling indah di tur. Pemandangannya luar biasa, dan lapangannya sangat estetis,” tutupnya.
Dengan kombinasi pengalaman, statistik impresif, dan kecintaan pada lapangan tanah liat, Alcaraz jelas menjadi salah satu kandidat terkuat untuk kembali berjaya di Monte-Carlo 2026.