Gagal Penalti di Final Piala Afrika, Brahim Diaz Dapat Dukungan Kuat dari Luis Enrique


 Gagal Penalti di Final Piala Afrika, Brahim Diaz Dapat Dukungan Kuat dari Luis Enrique Penyerang Maroko Brahim Diaz merayakan golnya bersama bek sayap Achraf Hakimi pada pertandingan babak 16 besar Piala Afrika 2025 di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Minggu (4/1/2026) waktu setempat. (https://x.com/CAF_Online)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, angkat suara membela Brahim Diaz yang kini jadi sasaran kritik tajam usai gagal mengeksekusi penalti pada final Piala Afrika 2025.

Enrique menegaskan, satu momen buruk—meski terjadi di final—tidak seharusnya menghapus nilai seorang pemain. Menurutnya, sepak bola tak pernah lepas dari risiko, termasuk risiko gagal saat mengambil keputusan besar.

“Kami membicarakannya di bus hari ini. Semua orang membicarakan Brahim, tetapi saya ingat Zinedine Zidane, seorang dewa sepak bola, juga pernah melakukan hal serupa di final Piala Dunia,” kata Luis Enrique, dikutip dari Cardena SER, Selasa (20/1/2026).

Pernyataan itu disampaikan Enrique menjelang laga Liga Champions PSG kontra Sporting CP di Stadion Jose Alvalade. Namun topik yang mencuri perhatian justru bukan soal pertandingan, melainkan tentang tekanan yang kini menimpa Brahim.

Final Piala Afrika 2025 yang berlangsung di Maroko memang berakhir pahit bagi tuan rumah. Dalam laga dramatis, Maroko harus mengakui keunggulan Senegal, dan salah satu titik balik paling menentukan datang dari penalti yang gagal.

Pada situasi genting, Brahim memilih melakukan panenka—penalti lambung yang kerap dianggap elegan, tapi juga berisiko tinggi. Sayangnya, kiper Senegal Edouard Mendy membaca arah bola dengan sempurna dan menggagalkan peluang emas tersebut.

Kegagalan itu membuat laga berlanjut hingga perpanjangan waktu. Senegal kemudian memastikan gelar juara lewat gol spektakuler Pape Gueye, sekaligus memupus harapan Maroko meraih trofi di kandang sendiri.

Usai pertandingan, sorotan publik langsung mengarah kepada Brahim Diaz. Pemain Real Madrid itu bahkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial.

“Hati saya sangat sakit. Saya bermimpi meraih gelar ini berkat semua cinta dan dukungan yang kalian berikan. Saya berjuang dengan sepenuh hati. Saya gagal dan saya bertanggung jawab penuh. Saya meminta maaf dari lubuk hati terdalam,” tulis Brahim di Instagram, Senin (19/1/2026).

Di tengah derasnya kritik, Luis Enrique kembali menegaskan bahwa kegagalan semacam ini adalah bagian dari permainan.

“Kalau golnya masuk, semua orang bertepuk tangan. Namun, bila gagal, langsung muncul banyak komentar negatif,” ujar Enrique dikutip Antara.

Pelatih asal Spanyol itu mengaku mengenal Brahim dengan sangat baik sejak memanggilnya ke tim nasional Spanyol. Ia menilai Brahim bukan hanya pemain berbakat, tetapi juga pribadi yang baik.

“Dia pemain luar biasa dan orang yang sangat baik,” tegasnya.

Enrique juga tak menampik bahwa panenka dalam momen krusial bukan keputusan mudah. Namun ia memilih melihat persoalan ini lebih luas: bagaimana publik memperlakukan pemain setelah satu kesalahan.

“Yang paling penting adalah nilai-nilai yang bisa kamu sampaikan kepada orang lain. Brahim bukan pembunuh dan bukan orang jahat. Itu penting untuk dikatakan,” pungkas Luis Enrique.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Olahraga Terbaru