Loading
Prof Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara. (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kasus flu burung makin sering dilaporkan dari waktu ke waktu. Beberapa hari yang lalu WHO melaporkan kematian pertama di dunia akibat virus flu burung H5N2.
“Kemarin dulu, 11 Juni 2024 WHO kembali mempublikasikan Disease Outbreak News penyakit akibat virus flu burung di India, selain yang kasus flu burung H5N1 di Australia,” ungkap Prof Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara kepada media ini Kamis (13/6/2024).
Menurut Prof Tjandra Yoga, virus flu burung memang diklasifikasikan berdasarkan dua jenis protein di permukaannya, yaitu hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N), jadi penamannya akan ada H sekian dan N sekian. “Yang dilaporkan oleh WHO kemarin dulu adalah kasus ke dua India yang terinfeksi virus flu burung H9N2 (kasus pertama di tahun 2019 yang lalu), jadi berbeda jenisnya dengan yang di Meksiko dan berbeda juga dengan laporan yang di Australia, kendati kasus Australia itu dikhabarkan baru bepergian ke India juga,”jelas Prof Tjandra Yoga.
Menurut Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Mantan Kabalitbangkes,kasus H9N2 di India sekarang ini dideteksi dan dilaporkan oleh “International Health Regulations (IHR) National Focal Point (NFP)” Kementerian Kesehatan India ke WHO.
“Menurut aturan internasional maka kasus pada manusia yang tertular virus flu burung novel itu berpotensi menimbukkan dampak kesehatan masyarakat yang besar, jadi memang harus dilaporkan ke WHO, seperti dilakukan pemerintah India kali ini, demikian juga Meksiko dan Australia beberapa waktu yang lalu. Kalau nanti terjadi juga di negara-negara lain (termasuk Indonesia) maka negara-negara itu juga harus melaporkannya ke WHO agar ada pengendalian terkoordinasi secara internasional,”jelasnya lebih lanjut.
Lebih lanjut Prof Tjandra Yoga menjelaskan bahwa kasus H9N2 India kali ini adalah seorang anak berusia 4 tahun, dari daerah West Bengal, India. Pasien mula-mula didiagnosis bukan sebagai flu burung, tetapi “hyperreactive airway disease” , lalu didiagnosa sebagai “post-infectious bronchiolitis”, dan baru belakangan terdiagnosis benar sebagai flu burung. Ini menunjukkan bahwa petugas kesehatan (termasuk di negara kita) perlu ekstra waspada dalam membuat diagnosis yang tepat. Belakangan keadaan pasien cukup berat, mendapat gagal napas berat yang berulang (“recurrence of severe respiratory distress”), di rawat di ICU anak dan akhirnya berhasil disembuhkan dan pulang dari rumah sakit. Dari anamnesis mendalam diketahui bahwa pasien ini memang ada kontak dengan unggas di rumahnya dan disekitarnya, yang menunjukkan bahwa kalau ada kasus demam dan gangguan saluran napas sekarang ini maka perlu di tanyakan tentang apakah ada riwayat kontak dengan unggas.
“Apa yang terjadi berturut-turut di India, Australia dan Meksiko ini (mungkin juga di negara lain) tentu perlu membuat kita waspada. Surveilans yang ketat di seluruh penjuru negeri kita perlu terus dilaksanakan, tentu dengan pendekatan One Health (satu kesehatan) yang melibatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan. Hanya dengan pencegahan yang baik, deteksi yang cepat dan respon segera maka Flu Burung akan dapat dikendalikan di dunia, dan juga di negara kita,”harap Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/ Guru Besar FKUI ini.