Kenangan Ketua Forkoma PMKRI tentang Sosok Sabam Leo Batubara


  • Kamis, 30 Agustus 2018 | 22:30
  • | News
 Kenangan Ketua Forkoma PMKRI tentang Sosok Sabam Leo Batubara Ketua FORKOMA PMKRI, Hermawi Taslim foto terakhir bersama Pak Leo Sabam Batubara di acara Focus Group Discussion (FGD) Forkom Narwastu yang membahas topik "Kemerdekaan Berpendapat" yang digelar Kamis (23/8/2018) lalu. (Istimewa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Tokoh pers nasional Sabam Leo Batubara yang wafat Rabu (29/8/2018) kemarin, menyisakan beragam kenangan di mata para koleganya.

Leo dikabarkan terpeleset di kamar mandi Gedung Dewan Pers yang menyebabkan kepalanya terbentur dan terluka. Leo sempat dirawat di IGD Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, sebelum wafat.

Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI), Hermawi Taslim juga punya kenangan akan sosok tokoh pers yang idealismenya selalu tegak lurus.

"Sungguh diluar dugaan, hanya berselang 6 hari setelah pertemuan terakhir kami di gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Jl. Raya Salemba, Jakarta Pusat tepatnya 23 Agustus 2018 lalu tatkala kami bersama sebagai Pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) Forkom Narwastu yang membahas topik: "Kemerdekaan Berpendapat". Pak Leo pergi meninggalkan kita semua,"ungkap Taslim

Taslim mengatakan terlalu banyak memori bersama beliau, sejak menjadi aktivis PMKRI di usia 20-an tahun hingga usia 50-an tahun sekarang ini Pak Leo selalu menjadi nara sumber dengan ciri khas yang tidak pernah berbeda yakni idealisme yang tegak lurus.

"Presiden boleh silih berganti, tapi kemerdekaan pers harus tetap dirawat,"demikian ungkap Pak Leo mengawali uraian di FGD Forkom Narwastu minggu lalu.

Di tengah perjuangan yang terus menerus merawat kebebasan pers Pak Leo kata Taslim akhir-akhir ini sering risau dengan media online yang semakin hari semakin diwarnai berita hoax.

"Perang melawan hoax adalah salah satu pesan beliau yang patut untuk kita kenang terus,"tandas Taslim.

Sebagai seorang lawyer, Taslim juga mengaku kerap menggunakan jasa Pak Leo sebagai saksi ahli dalam perkara-perkara tindak pidana yang berhubungan dengan pemberitaan pers.

"Suatu ketika dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pak Leo tampil sebagai Saksi Ahli dengan keterangan tertulis setebal 33 halaman. Lalu setelah dipersilahkan Majelis hakim, beliau mengawali penjelasannya sebagai berikut: terima kasih yang mulia, paper yang sudah saya buat itu bisa dibaca di rumah, sekarang saya ingin memberi penjelasan lisan yang jauh lebih substantif,"ungkap Leo yang ditirukan Taslim.

Kenang Taslim lagi, persidangan yang berlangsung 2 jam lebih itu diselingi beberapa kali teguran Majelis Hakim agar beliau memperlambat pembicaraan, agar semuanya bisa dicatat oleh hakim.

"Selain idealisme yang tegak lurus, satu hal lain yang tidak pernah berubah dari pak Leo yakni suaranya yang selalu tinggi, melengking dan menggelegar,"ungkap Taslim.

Cerita Taslim lainnya adalah di akhir FGD," Saya memberi Pak Leo, Rosario. Saya katakan, Pak ini Rosario khusus saya bawa dari Morotai, Maluku Utara hasil kerajianan tangan masyarakat di sana yang bahan bakunya dari besi putih sisa-sisa kapal perang AS saat perang dunia kedua.

Mendengar penjelasan itu, Pak Leo langsung menyambar dan bercerita tentang perang dunia kedua, dan Jendral Mc. Arthur. Saking bersemangatnya, kami tidak sadar Pendeta Nus Reimas sudah berdiri di hadapan kami untuk mengawali FGD dengan doa.

Selamat jalan Pak Leo, kami akan terus melanjutkan perjuanganmu: merawat dan menjaga kebebasan pers dan konsisten melawan hoax.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru