Loading
Cendekiawan, Rohaniwan Katolik, Frans Magnis Suseno SJ ketika tampil sebagai salah satu pembicara pada seminar nasional Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda dalam Menata Kemajuan Bangsa yang diselenggarakan KBM Jaya di Jakarta, Jumat, (20/1/2023). (Foto: Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Cendekiawan, Rohaniwan Katolik, Frans Magnis Suseno SJ ketika tampil sebagai salah satu pembicara pada seminar nasional "Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda dalam Menata Kemajuan Bangsa" yang diselenggarakan KBM Jaya di Jakarta, Jumat, (20/1/2023) menyebut Frans Seda sebagai seorang tokoh Katolik dan seorang tokoh Indonesia yang mewujudkan dengan elegan apa yang bagi Gereja Katolik Indonesia sendiri, merupakan suatu perkembangan yang tidak selalu gampang yaitu rekonsiliasi dengan dunia modern.
Kata Magnis Suseno, karena beliau kita menyaksikan ke-Katolik-an seperti itu. Perhatian kepada keadilan sosial, keterbukaan pada negara modern, keterbukaan pada agama-agama lain. Dengan keterbukaan Katolik itu Frans Seda menempatkan umat Katolik ke tengah-tengah bangsa Indonesia.
Lanjut dia, bangsa Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan untuk mewujudkan keadilan yang bertekad membangun kebangsaan dan kehidupan bersama senasib sepenanggungan. Indonesia hanya maju apbaila semua maju, tidak ada yang boleh ditinggal. Indonesia yang dalam suatu perjalanan panjang dan sudah berhasil membangnun demokrasi, memastikan penjaminan HAM, menjalin kebebasan beragama, menolak naluri-naluri intoleransi, menolak ideologi-ideologi eksklusif radikal.
Baca juga:
Dorong Pemberian Gelar Pahlawan bagi Frans Seda, Begini Kesaksian Blasius Bapa Pendiri KBM Jaya“Indonesia bagi kita semua Indonesia di mana semua masyarakat yang majemuk, mewujudkan satu bangsa Indonesia. Frans Seda memutuskan Indonesia seperti itu dan karena itulah begitu diakui dan dihargai,”tegas Magnis Suseno.
Dikatakan Magnis Susesno, kita beruntung bahwa Indonesia mendasarkan diri pada Pancasila. Pancasilalah yang merumuskan dengan tepat nilai-nilai dan cita-cita bangsa Indonesia. Pancasila yang menjadi tolak ukur kepolitikan Indonesia.
“Dalam Frans Seda kita melihat sosok Pancasilais. Seorang yang secara alami mewujudkan apa yang ingin kita capai berdasarkan Pancasila,”tandas Magnis Suseno.
Frans Seda yang meninggal pada tahun 2009 menurut Magnis Suseno adalah sosok yang memancarkan ketenangan, wibawa, kepositifan, kompetensi, kepercayaan. Saya bangga bahwa punya orang Katolik seperti Frans Seda, yang mengombinasikan apa yang menjadi cita-cita kita, kepribadian yang amat mantap, positif, ke-Indonesia-an ke-Katolik-an, dan juga orang Indonesia dari Flores. “Frans Seda membuat kita orang Katolik Indonesia bangga bahwa sebagai orang Katolik bisa menyumbangkan sesuatu kepada Indonesia dan itu dari Maumere, Flores yang mana jauh dari Jakarta,”ungkapnya.
“Saya sendiri kerap bertemu dengan Frans sebagai tokoh Katolik juga tokoh Partai Katolik kemudian PDI dan PDI Perjuangan, sebagai Rektor Universitas Atmajaya dan Ketua Yayasan Atmajaya. Dia merupakan faktor positif, sosok yang dapat diandalkan, menunjukan bahwa ke-Katolik-an dan ke-Indonesia-an bisa berjalan bersama. Dia orang dari Flores, orang dari minoritas, orang dari 3% bangsa Indonesia, tetapi dengan tenang dan percaya diri menyatakan diri sebagai orang Indonesia. Sebagai orang Indonesia yang dihargai banyak pihak termasuk Presiden Sukarno, Presiden Suharto, Presiden Habibie, oleh Gus Dur, Bu Megawati,”tuturnya.
Kata Magnis Suseno, Frans Seda menunjukan sikap yang memang diharapkan dari kami orang Katolik bahwa kami bukan hanya melihat segala sesuatu dari sudut ke-Katolik-an saja melainkan sepenuhnya melibatkan diri dalam kehidupan bangsa, menawarkan diri di mana kita dibutuhkan. Frans Seda sekaligus seorang tokoh Katolik dan seorang tokoh Indonesia yang mewujudkan dengan elegan apa yang bagi Gereja Katolik Indonesia sendiri, merupakan suatu perkembangan yang tidak selalu gampang yaitu rekonsiliasi dengan dunia modern.
Melalui Frans Seda kita menyaksikan ke-Katolik-an seperti itu. Perhatian kepada keadilan sosial, keterbukaan pada negara modern, keterbukaan pada agama-agama lain. Dengan keterbukaan Katolik itu Frans Seda menempatkan umat Katolik ke tengah-tengah bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan untuk mewujudkan keadilan yang bertekad membangun kebangsaan dan kehidupan bersama senasib sepenanggungan.
Indonesia bagi kita semua Indonesia di mana semua masyarakat yang majemuk, mewujudkan satu bangsa Indonesia. Frans Seda memutuskan Indonesia seperti itu dan karena itulah begitu diakui dan dihargai.
“Kita beruntung bahwa Indonesia mendasarkan diri pada Pancasila. Pancasilalah yang merumuskan dengan tepat nilai-nilai dan cita-cita bangsa Indonesia. Pancasila yang menjadi tolak ukur kepolitikan Indonesia. Dalam Frans Seda kita melihat sosok Pancasilais. Seorang yang secara alami mewujudkan apa yang ingin kita capai berdasarkan Pancasila,”ungkapnya.
Menutup paparannya Magnis Suseno mengatakan peringatan Frans Seda membawa kita jauh dan bangga bahwa kita memiliki sosok seperti Frans Seda. “Mari kita bertekad meneruskan apa yang menjadi warisannya. Bagus kalau Frans Seda bisa menjadi pahlawan nasional,”pungkasnya.