Senin, 28 September 2026

WMO: Juli 2026 Jadi Bulan Terpanas Kedua Sepanjang Sejarah


  • Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:30
  • | News
 WMO: Juli 2026 Jadi Bulan Terpanas Kedua Sepanjang Sejarah Warga menikmati waktu di tepi Sungai Rhine di Cologne, Jerman, 10 Agustus 2026. (Foto oleh Ulrich Hufnagel/Xinhua)

JENEWA, ARAHKITA.COM – Dunia kembali mencatat rekor suhu yang mengkhawatirkan. Juli 2026 tercatat sebagai bulan terpanas kedua sepanjang sejarah, dengan suhu global yang tetap berada pada level sangat tinggi.

Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menyebut kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan berbagai cuaca ekstrem di sejumlah wilayah dunia.

Gelombang panas, kekeringan berkepanjangan, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sebagian besar kawasan Belahan Bumi Utara. Di sisi lain, sejumlah wilayah justru menghadapi hujan ekstrem dan banjir.

Data yang dikutip WMO dari Copernicus Climate Change Service menunjukkan, suhu udara permukaan rata-rata global pada Juli mencapai 1,47 derajat Celsius di atas rata-rata suhu pada periode praindustri 1850–1900.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator kuat bahwa pemanasan global terus memberikan dampak terhadap pola cuaca dan iklim dunia.

Eropa Barat Dilanda Panas Ekstrem

Kondisi panas ekstrem terlihat sangat jelas di Eropa Barat. WMO mencatat periode Juni-Juli 2026 menjadi yang terpanas sepanjang sejarah kawasan tersebut.

Situasi bahkan belum sepenuhnya mereda memasuki Agustus. Beberapa negara Eropa dilaporkan telah menghadapi gelombang panas keempat sejak Mei tahun ini.

Kepala Informasi Iklim WMO, John Kennedy, mengatakan kondisi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir merupakan kombinasi antara pemanasan jangka panjang dan perubahan pola sistem tekanan udara di Belahan Bumi Utara.

Menurut Kennedy, sistem tekanan udara tinggi umumnya berkaitan dengan suhu yang lebih panas dan kondisi yang lebih kering. Sebaliknya, sistem tekanan udara rendah cenderung membawa kondisi yang lebih sejuk dan basah.

Masalahnya, sistem tekanan udara tertentu dapat bertahan cukup lama, bahkan selama berhari-hari hingga berminggu-minggu.Kondisi inilah yang turut memperpanjang periode panas dan kekeringan di sejumlah wilayah.

Kekeringan Berdampak pada Pertanian dan Ekosistem

Dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan melalui kenaikan suhu. Curah hujan dan kelembapan tanah yang sangat rendah juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Prancis, Spanyol, sebagian Jerman dan Inggris, serta kawasan yang lebih jauh ke timur.

Kombinasi suhu tinggi, rendahnya kelembapan tanah, dan kekeringan memberikan tekanan besar terhadap lingkungan.

WMO mencatat kondisi tersebut berdampak pada ekosistem dan sektor pertanian. Menurunnya debit air sungai juga dapat mengganggu berbagai aktivitas manusia, mulai dari transportasi hingga produksi energi.

Pada saat yang sama, kondisi lahan yang kering meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Karhutla Eropa Jadi Perhatian

Juli 2026 juga ditandai dengan sejumlah peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang cukup parah di Eropa Barat.

Besarnya wilayah yang terbakar serta tingginya emisi yang dihasilkan membuat karhutla menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian kejadian cuaca ekstrem bulan tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak berdiri sendiri. Suhu yang semakin tinggi dapat memperparah kekeringan, sementara tanah dan vegetasi yang kehilangan kelembapan menjadi lebih mudah terbakar.

Di berbagai wilayah lainnya, persoalannya justru berbeda. Hujan dengan intensitas tinggi dan banjir terjadi ketika wilayah tertentu menghadapi kondisi atmosfer yang lebih basah dilansir Antara.

Dengan demikian, Juli 2026 kembali memperlihatkan wajah perubahan iklim yang semakin kompleks: satu wilayah menghadapi panas dan kekeringan ekstrem, sementara wilayah lain berhadapan dengan hujan lebat dan banjir.

Bagi WMO, perkembangan tersebut menjadi pengingat bahwa pemanasan global bukan sekadar persoalan kenaikan angka suhu rata-rata. Perubahan iklim juga berkaitan dengan meningkatnya risiko dan intensitas berbagai kejadian cuaca ekstrem yang berdampak langsung terhadap masyarakat, pertanian, infrastruktur, energi, dan ekosistem.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru