Ketua PMKRI Jakarta Pusat Diduga Dikeroyok saat Kongres PMKRI di Ruteng, Alami Luka dan Jalani 5 Jahitan


  • Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:00
  • | News
 Ketua PMKRI Jakarta Pusat Diduga Dikeroyok saat Kongres PMKRI di Ruteng, Alami Luka dan Jalani 5 Jahitan Ketua PMKRI Jakarta Pusat diduga menjadi korban pengeroyokan saat Kongres PMKRI di Ruteng. Korban mengalami luka di dahi, mendapat lima jahitan, dan kasusnya telah dilaporkan ke Polres Manggarai. (Foto: Dok. PMKRI Jakarta Pusat)

RUTENG, ARAHKITA.COM – Suasana Kongres dan Musyawarah Permusyawaratan Anggota (MPA) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, diwarnai insiden kekerasan yang melibatkan peserta forum.

Dewan Pengurus Cabang (DPC) PMKRI Jakarta Pusat mengecam keras dugaan aksi pengeroyokan yang menimpa Ketua Presidium PMKRI Jakarta Pusat, Yohanes Jonianus Taek. Peristiwa tersebut terjadi saat agenda sidang komisi berlangsung pada Jumat (24/7/2026).

Menurut keterangan DPC PMKRI Jakarta Pusat, insiden bermula ketika forum membahas sejumlah agenda yang memunculkan perbedaan pandangan antar delegasi. Saat Yohanes mendapat kesempatan dari pimpinan sidang untuk menyampaikan pendapat, mikrofon yang digunakannya disebut tiba-tiba direbut oleh sejumlah peserta.

Situasi kemudian memanas. Yohanes diduga menjadi korban pemukulan dan bahkan dihantam menggunakan kursi oleh oknum delegasi yang disebut berasal dari PMKRI Cabang Kupang dan PMKRI Cabang Kefa.

Akibat kejadian tersebut, Yohanes mengalami luka sobek di bagian dahi. Ia segera dilarikan ke RSUD dr. Ben Mboi Ruteng untuk mendapatkan penanganan medis. Korban diketahui menjalani tindakan penjahitan sebanyak lima jahitan akibat luka yang dideritanya.

Usai mendapatkan perawatan, delegasi PMKRI Jakarta Pusat yang didampingi alumni serta Dewan Pertimbangan DPC PMKRI Jakarta Pusat secara resmi melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Manggarai pada hari yang sama.

Dewan Pertimbangan PMKRI Jakarta Pusat periode 2026–2027, Eleonarius Dawa, S.H., yang akrab disapa Errizmo, menilai tindakan kekerasan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar organisasi.

Menurutnya, dinamika dan perbedaan pendapat dalam forum kongres merupakan hal yang wajar sebagai bagian dari proses kaderisasi. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan fisik tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

"Dinamika perbedaan pendapat di forum Kongres dan MPA adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari proses kaderisasi. Namun aksi premanisme yang berujung pada kekerasan fisik ini tidak dapat kami tolerir. Apalagi korban adalah Ketua Presidium Cabang Jakarta Pusat, yang merupakan simbol dan marwah PMKRI Cabang Jakarta Pusat sebagai salah satu cabang pendiri PMKRI," ujar Errizmo.

Ia menambahkan, tindakan tersebut juga dinilai mencederai semangat Tiga Benang Merah PMKRI, yakni Fraternitas, Kristianitas, dan Intelektualitas, yang selama ini menjadi landasan dalam kehidupan organisasi.

Tiga Sikap PMKRI Jakarta Pusat

Menanggapi insiden tersebut, DPC PMKRI Jakarta Pusat menyampaikan tiga sikap resmi, yaitu:

  1. Mengecam dan mengutuk segala bentuk kekerasan maupun aksi premanisme dalam Kongres dan MPA PMKRI.
  2. Mendesak Polres Manggarai untuk segera mengusut serta memproses hukum para pelaku secara tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu.
  3. Meminta pertanggungjawaban moral maupun organisasi dari PMKRI Cabang Kupang dan PMKRI Cabang Kefa atas dugaan keterlibatan oknum delegasi.

Errizmo menegaskan pihaknya akan terus mengawal proses hukum hingga tuntas.

"Kami akan mengawal proses hukum ini sampai tuntas di Polres Manggarai. Tindakan ini telah mencederai marwah PMKRI Cabang Jakarta Pusat. Kami tidak akan tinggal diam," tegasnya dalam rilis yang disampaikan ke media, Sabtu (25/7/2026).

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak PMKRI Cabang Kupang, PMKRI Cabang Kefa, maupun panitia Kongres PMKRI terkait insiden tersebut.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru