Sejumlah personel didukung alat berat melakukan pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (3/7/2026). ANTARA/HO-Kemenhut
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Sebanyak 102 warga terpaksa mengungsi akibat kepulan asap tebal dari kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten. Pengungsian dilakukan untuk menghindari dampak kesehatan akibat paparan asap yang terus menyelimuti kawasan sekitar.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan hingga Sabtu (4/7/2026), petugas gabungan masih terus berupaya memadamkan api yang belum sepenuhnya berhasil dikendalikan.
"Warga mengungsi untuk menghindari bahaya dari sebaran asap material sampah. Hingga saat ini petugas gabungan terus melakukan penanggulangan," ujarnya.
Tim Medis Disiagakan 24 Jam
BNPB memastikan layanan kesehatan disiapkan selama 24 jam, baik di lokasi pengungsian maupun wilayah yang terdampak asap kebakaran. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi munculnya gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Kelompok yang menjadi prioritas penanganan meliputi bayi dan balita, lanjut usia (lansia), serta warga yang memiliki penyakit penyerta atau penyakit kronis. Mereka dinilai paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran.
Status Tanggap Darurat Berlaku Hingga 14 Juli
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran TPA Jatiwaringin.
Status tersebut dituangkan melalui Keputusan Bupati Tangerang Nomor 609 Tahun 2026 dan berlaku selama 14 hari, mulai 1 hingga 14 Juli 2026. Penetapan ini menjadi dasar percepatan mobilisasi personel, peralatan, hingga dukungan logistik bagi masyarakat terdampak dikutip Antara.
Pemadaman Darat dan Udara Terus Dilakukan
Pusat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan proses pemadaman masih berlangsung secara intensif dengan melibatkan berbagai instansi. Selain pemadaman melalui jalur darat, operasi udara juga terus dioptimalkan dengan dukungan helikopter pengebom air (water bombing).
Langkah tersebut dinilai sangat penting karena bara api masih terdeteksi aktif di sejumlah titik dalam timbunan sampah yang berada beberapa meter di bawah permukaan. Kondisi itu membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kebakaran biasa.
BNPB mengimbau masyarakat di sekitar lokasi tetap waspada terhadap dampak asap, mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, serta menggunakan masker untuk meminimalkan risiko gangguan pernapasan hingga situasi benar-benar dinyatakan aman.