Loading
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (tengah) didampingi mantan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin (kiri) dan Juru Bicara JK, Husain Abdullah, dalam konferensi pers di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). ANTARA/Rio Feisal/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Setelah ramai diperbincangkan publik, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) akhirnya angkat bicara terkait ceramahnya yang viral di media sosial.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (19/4/2026), JK membuka pernyataannya dengan permintaan maaf. Ia mengaku baru bisa memberikan klarifikasi karena baru kembali dari Jepang.
“Pertama, saya minta maaf karena baru hari ini dapat menjelaskan masalah-masalah yang viral. Saya subuh tadi baru pulang dari Jepang,” ujarnya.
Baca juga:
World Peace Forum 2025: Jusuf Kalla dan Din Syamsuddin Serukan Spirit Damai dari Jakarta untuk DuniaKonteks Ceramah yang Perlu Dipahami
JK menekankan bahwa ceramah yang disampaikannya berlangsung dalam suasana khusus, yakni di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) saat Ramadhan 1447 Hijriah.
Menurutnya, audiens yang hadir juga memiliki karakter tertentu.
“Ceramah Ramadhan itu tentu dihadiri umat muslim, di masjid, dan di lingkungan kampus. Artinya, yang hadir juga kalangan intelektual,” jelas JK.
Penjelasan ini penting, kata dia, agar publik memahami konteks utuh dari isi ceramah yang kini ramai diperdebatkan.
Singgung Konflik Maluku dan Poso
Dalam kesempatan tersebut, JK juga memutar cuplikan video konflik Maluku dan Poso sebagai bagian dari penjelasan.
Ia menyebut, banyak generasi muda saat ini mungkin tidak mengetahui langsung peristiwa tersebut karena terjadi sekitar 26 tahun lalu.
“Video itu hanya sebagian kecil, bahkan baru pembukaan dari konflik. Yang terekam media saat itu hanya di wilayah kota,” ungkapnya.
Dengan menampilkan video tersebut, JK ingin memberikan gambaran utuh tentang latar belakang pembahasan yang ia sampaikan dalam ceramah.
Tegaskan Pesan Perdamaian
JK menegaskan bahwa ceramah yang ia bawakan bukan bermuatan negatif seperti yang dituduhkan, melainkan berfokus pada perdamaian.
“Saya diundang dengan tema perdamaian. Jadi yang saya sampaikan adalah langkah-langkah menuju perdamaian,” katanya dikutip Antara.
Ia menilai potongan video yang beredar di media sosial telah keluar dari konteks sehingga menimbulkan persepsi berbeda di masyarakat.
Awal Mula Viral dan Laporan ke Polisi
Sebagai informasi, ceramah JK di UGM berlangsung pada 5 Maret 2026 dalam rangka Ramadhan, dengan tema besar tentang strategi diplomasi Indonesia di tengah potensi konflik global.
Namun, potongan ceramah tersebut baru viral pada pertengahan April 2026.
Kontroversi pun muncul, bahkan DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) melaporkan JK ke Polda Metro Jaya pada 12 April 2026, terkait salah satu pernyataan dalam ceramah tersebut.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa di era digital, potongan informasi yang tidak utuh dapat dengan cepat membentuk opini publik. Klarifikasi seperti yang disampaikan JK menunjukkan pentingnya melihat konteks secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan.