Kardinal Suharyo: Perdamaian Dunia Jadi Prioritas Gereja Katolik di Tengah Konflik Global


  • Minggu, 05 April 2026 | 14:00
  • | News
 Kardinal Suharyo: Perdamaian Dunia Jadi Prioritas Gereja Katolik di Tengah Konflik Global Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo memimpin konferensi pers perayaan Paskah di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (5/4/2026). ANTARA/Asep Firmansyah

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah memanasnya konflik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, Gereja Katolik kembali menegaskan sikapnya: perdamaian adalah prioritas utama.

Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menyampaikan bahwa arah ini sejalan dengan kepemimpinan Paus Leo XIV yang sejak awal sudah menempatkan pesan damai sebagai fondasi pelayanannya.

Pesan itu, menurut Kardinal Suharyo, terlihat jelas saat Paus pertama kali tampil di mimbar Basilika Santo Petrus. Dalam momen tersebut, Paus menyampaikan doa agar damai Tuhan menyertai seluruh dunia—sebuah sinyal kuat tentang arah kepemimpinannya.

“Beliau sungguh ingin menunjukkan bahwa masa kepemimpinannya akan mengusahakan perdamaian,” ujar Kardinal Suharyo usai memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (5/4/2026).

Perang Tidak Pernah Dibela

Kardinal Suharyo juga menyoroti sikap tegas Paus terhadap perang. Bahkan, menurutnya, Paus menggunakan kata-kata yang sangat keras untuk menegaskan bahwa perang tidak pernah mendapat pembenaran moral.

Salah satu pernyataan yang paling kuat adalah bahwa doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan.

Pesan ini menjadi kritik moral yang tajam terhadap situasi dunia saat ini, di mana konflik masih terus terjadi dan memakan korban.

Dampak Perang: Luka bagi Dunia dan Kemanusiaan

Lebih jauh, Kardinal Suharyo menilai bahwa perang bukan hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dampaknya pun tidak main-main.

Perang tidak hanya merusak bumi secara fisik, tetapi juga meninggalkan penderitaan mendalam bagi umat manusia.

“Yang terjadi adalah akibat yang sangat buruk, bukan hanya bagi dunia, tetapi bagi seluruh umat manusia,” tegasnya dikutip Antara.

Harapan di Tengah Kegelapan

Meski konflik belum mereda—bahkan harapan perdamaian sebelum Paskah belum terwujud—Gereja Katolik tetap mengajak umat untuk tidak kehilangan harapan.

Kardinal Suharyo menggambarkan situasi dunia saat ini seperti berada dalam “kegelapan”. Namun, di tengah itu, masih ada cahaya kecil yang menjadi simbol harapan bagi kemanusiaan.

Umat Katolik pun diajak untuk terus mendoakan perdamaian setiap hari, sebagai bentuk komitmen spiritual menghadapi realitas dunia yang penuh tantangan.

Ekologi Integral: Dari Lingkungan ke Hati Nurani

Selain isu perdamaian, Kardinal Suharyo juga mengingatkan pentingnya konsep ekologi integral—sebuah cara pandang yang melihat lingkungan hidup secara menyeluruh.

Bukan hanya soal energi, air, atau sampah, tetapi juga menyangkut moralitas manusia.

Menurutnya, kerusakan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari sikap serakah yang mengabaikan solidaritas terhadap sesama.

“Selama keserakahan masih dominan, apalagi didukung kekuatan yang merusak, maka kerusakan akan terus terjadi,” jelasnya.

Mulai dari Diri Sendiri

Sebagai solusi, Kardinal Suharyo menekankan pentingnya pertobatan ekologis—yang tidak berhenti pada tindakan luar, tetapi berakar dari perubahan hati nurani.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup sederhana, sebagai bentuk pengendalian diri.

Hidup secukupnya, tidak berlebihan, dan lebih peduli terhadap sesama serta lingkungan menjadi langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru