Kasus Campak 2026 Capai 8.716, Kemenkes Gencarkan Imunisasi


  • Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:00
  • | News
 Kasus Campak 2026 Capai 8.716, Kemenkes Gencarkan Imunisasi Kasus Campak 2026 Capai 8.716, Kemenkes Gencarkan Imunisasi. (Foto ilustrasi: Freepik)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kementerian Kesehatan mencatat kasus campak di Indonesia mencapai 8.716 hingga minggu ke-9 tahun 2026. Di tengah masih tingginya angka penularan, pemerintah terus menggencarkan imunisasi di berbagai daerah sebagai langkah pencegahan.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan jumlah suspek campak hingga periode tersebut tercatat sebanyak 10.826. Pada minggu ke-9, terdapat penambahan sekitar 500 kasus dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Data Kemenkes menunjukkan bahwa hingga minggu ke-8 tahun 2026 terdapat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan enam kematian. Sementara pada minggu ke-7, tercatat 8.224 suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan empat kematian.

Andi menyebut penurunan penambahan suspek dan kasus pada minggu ke-9 tidak lepas dari pelaksanaan imunisasi dan edukasi pola hidup bersih dan sehat yang dilakukan secara masif. Upaya tersebut dinilai mulai menekan laju penularan di sejumlah wilayah.

Meski demikian, Kemenkes masih mencatat 45 kejadian luar biasa campak di 29 kabupaten dan kota pada 11 provinsi. Wilayah terdampak meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Menurut Andi, tren mingguan kasus campak dan hasil konfirmasi laboratorium di 11 provinsi terdampak KLB pada 2026 sebagian besar menunjukkan penurunan. Namun, Nusa Tenggara Barat, khususnya Kabupaten Bima dan Kota Bima, masih mencatat kasus yang tinggi.

"Sejumlah daerah juga tercatat menjadi penyumbang jumlah suspek dan kasus tertinggi sepanjang 2026. Di antaranya yakni Tangerang Selatan, Bima, Tangerang, Depok, Jakarta Pusat, Palembang, dan Padang," ujarnya di Jakarta.

Per 12 Maret 2026, Kemenkes mencatat 22 kabupaten dan kota yang sedang mengalami KLB campak telah melaksanakan Outbreak Response Immunization atau ORI MR untuk anak usia 9 sampai 59 bulan. Cakupan tertinggi tercatat di Pamekasan sebesar 47,93 persen, disusul Jember 38,64 persen dan Bima 22,73 persen.

Pada periode yang sama, lima kabupaten dan kota dengan kasus campak tertinggi juga menjalankan Catch Up Immunization atau imunisasi kejar serentak campak-rubela. Cakupannya meliputi Jakarta Barat 56,4 persen, Jakarta Pusat 80,4 persen, Depok 17,3 persen, Tangerang Selatan 8,4 persen, dan Palu 5,6 persen.

Andi mengatakan 51 UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan ikut mendukung pelaksanaan layanan imunisasi MR dengan berkoordinasi bersama dinas kesehatan setempat. Langkah ini dilakukan untuk memperluas jangkauan imunisasi di wilayah yang masih menghadapi risiko penularan tinggi.

Kemenkes juga mengingatkan pentingnya imunisasi campak untuk membentuk kekebalan tubuh pada anak. Orang tua diminta memeriksa kembali status imunisasi balita, terutama karena vaksin campak seharusnya diberikan saat usia 9 bulan dan 18 bulan.

Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai gejala seperti demam, ruam pada kulit, batuk, pilek, dan mata merah. Jika gejala tersebut muncul, pasien disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan menunda perjalanan agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain.

Kemenkes menegaskan daya tular campak sangat tinggi. Satu penderita campak bahkan dapat menularkan penyakit ini kepada 12 hingga 18 orang lain.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru