Lebaran dan Nyepi 1948 Berdekatan, MUI Bali: Jadi Momentum Istimewa di Pulau Dewata


  • Minggu, 22 Februari 2026 | 08:30
  • | News
 Lebaran dan Nyepi 1948 Berdekatan, MUI Bali: Jadi Momentum Istimewa di Pulau Dewata Ribuan umat Islam di Kota Denpasar saat mengikuti Shalat Idul Fitri di Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Rabu (10/4/2024). ANTARA/Ni Luh Rhismawati.

DENPASAR, ARAHKITA.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali menilai perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang waktunya berdekatan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 sebagai momentum penting untuk mempererat toleransi antarumat beragama di Pulau Dewata.

Ketua MUI Bali, Mahrusun Hadyono, menyebut peristiwa ini sebagai momen yang tidak selalu terjadi setiap tahun.

“Berhimpitnya Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah merupakan momentum istimewa untuk menjalin dan membangun kembali kerukunan umat beragama,” ujarnya di Denpasar, Sabtu (21/2/2026).

Tahun ini, Nyepi jatuh pada 19 Maret 2026, sementara Idul Fitri diperkirakan pada 21 Maret 2026. Bahkan, menurut perhitungan sebagian organisasi Islam, jaraknya bisa hanya satu hari.

Kondisi tersebut membuat masyarakat Bali perlu saling memahami, mengingat pelaksanaan Nyepi lebih dahulu berlangsung, termasuk Catur Brata Penyepian yang mengharuskan umat Hindu menjalankan tapa, brata, dan aktivitas hening selama 24 jam.

Mahrusun mengimbau umat Muslim agar tetap menghormati aturan yang berlaku saat Nyepi, terlebih karena momen tersebut masih beririsan dengan kegiatan ibadah tarawih menjelang Lebaran.

“Khususnya umat Muslim agar menaati seruan bersama terkait pelaksanaan Hari Suci Nyepi yang bersamaan dengan jelang Idul Fitri, tetap menjaga kerukunan antara kedua umat beragama,” katanya, seperti yang dikutip dari Antara.

Menurut MUI Bali, situasi serupa bukan pertama kali terjadi. Pada 2004 lalu, Nyepi dan Idul Fitri bahkan jatuh pada hari yang sama dan tetap berlangsung aman serta khidmat.

“Pada 2004, Nyepi bersamaan dengan Idul Fitri dan berjalan lancar. Hari Suci Nyepi tetap khidmat, Lebaran pun berlangsung baik. Ini karena kearifan para tokoh agama dan masyarakat,” jelas Mahrusun.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa harmoni di Bali dapat terjaga melalui komunikasi dan sikap saling menghormati.

MUI Bali berharap seluruh elemen masyarakat, baik tokoh agama maupun warga, terus membangun dialog yang positif menjelang perayaan dua hari besar tersebut.

Dengan semangat toleransi yang sudah mengakar kuat, perayaan Nyepi 1948 Saka dan Idul Fitri 1447 H diharapkan tetap berlangsung kondusif, damai, dan penuh makna bagi seluruh umat beragama di Bali.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru