Loading
Prof. Tjandra Yoga Aditama, pakar paru dan kesehatan masyarakat. (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Peningkatan kasus tuberkulosis (TB) di Malaysia menjadi perhatian serius kawasan. Pada pekan kelima tahun 2026, tercatat 503 kasus baru TB, dengan total 2.571 kasus sejak awal tahun. Kondisi ini dinilai perlu menjadi alarm kewaspadaan, termasuk bagi Indonesia yang memiliki mobilitas warga cukup tinggi dengan negara tetangga tersebut.
Menanggapi situasi ini, Tjandra Yoga Aditama, pakar paru dan kesehatan masyarakat, menegaskan bahwa lonjakan kasus TB di Malaysia menunjukkan satu fakta penting: TB masih menjadi ancaman kesehatan global yang nyata dan belum bisa dianggap selesai.
“Tuberkulosis sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan penting dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Ketika ada peningkatan kasus di satu negara, maka negara lain di sekitarnya juga perlu waspada,” ujar Prof. Tjandra kepada Arahkita.com.
TB Masih Penyebab Kematian Besar di Dunia
Prof. Tjandra menjelaskan, berdasarkan Global TB Report 2025, setiap tahun sekitar 1,23 juta orang meninggal akibat TB, termasuk sekitar 150 ribu pada penderita dengan HIV positif. TB juga masih menjadi penyebab kematian nomor satu dari satu penyakit menular, serta masuk dalam 10 besar penyebab kematian global.
“Diperkirakan ada 10,7 juta orang yang menderita TB setiap tahun di dunia. Yang juga perlu menjadi perhatian adalah TB resisten obat atau multidrug-resistant TB (MDR-TB), karena hanya sebagian kecil pasien yang bisa mengakses pengobatan secara optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, TB juga merupakan penyebab utama kematian yang berkaitan dengan resistensi antimikroba, sehingga pengendaliannya tidak bisa ditunda.
Baca juga:
Presiden Tambah Anggaran Riset Rp4 Triliun, Prof Tjandra: Riset Kesehatan Perlu Fokus di 5 Area IniPelaporan Data Mingguan Jadi Kunci
Menurut Prof. Tjandra, salah satu hal positif dari kasus TB di Malaysia adalah keterbukaan data. Pemerintah Malaysia secara rutin melaporkan jumlah kasus TB mingguan, bahkan hingga tingkat negara bagian seperti Sabah, Selangor, Sarawak, Johor, serta Kuala Lumpur dan Putrajaya.
“Pelaporan data mingguan menunjukkan sistem surveilans yang berjalan. Jika ada kecenderungan peningkatan kasus, maka langkah pengendalian bisa segera dilakukan,” katanya.
Ia menilai, Indonesia juga akan sangat terbantu jika memiliki pelaporan TB mingguan yang terbuka ke publik, baik secara nasional maupun provinsi. Selain memperkuat sistem pengawasan, hal ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dinamika penularan TB.
Edukasi dan Pencegahan Tetap Jadi Andalan
Terkait imbauan Kementerian Kesehatan Malaysia menjelang musim libur panjang seperti Tahun Baru Imlek dan Lebaran, Prof. Tjandra menyambutnya secara positif. Edukasi tentang etika batuk dan bersin, serta penggunaan masker di tempat ramai, dinilai tetap relevan dan efektif.
“Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat adalah bagian penting dari pengendalian penyakit menular. Pencegahan TB tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga pada perilaku sehari-hari,” ujarnya.
Bagi warga Indonesia yang akan atau sedang berada di Malaysia, Prof. Tjandra mengingatkan pentingnya mengikuti anjuran kesehatan setempat sebagai bentuk perlindungan diri dan tanggung jawab bersama.