Loading
Tim BKSDA Sumbar saat memasang kandang jebak beruang di Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. (BKSDA Sumbar)
SIMPANG EMPAT, ARAHKITA.COM – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) bergerak cepat menangani kemunculan beruang liar yang menyerang warga di Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memasang kandang jebak di sekitar lokasi kejadian.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumbar, Antonius Vevri, menjelaskan bahwa tim gabungan telah berada di lokasi sejak Sabtu (14/2/2026).
“Sejak Sabtu kami bersama COP (Centre for Orangutan Protection) sudah melakukan berbagai upaya penanganan di lokasi kejadian,” ujar Antonius di Simpang Empat, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, langkah yang dilakukan meliputi patroli rutin, penghalauan satwa, serta sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar lebih waspada saat beraktivitas. Selain itu, kandang jebak dipasang untuk mengamankan beruang yang sempat melukai warga.
“Kandang jebak sudah kami pasang untuk menangkap beruang tersebut demi mencegah kejadian serupa terulang,” tegasnya.
Kronologi Serangan
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu pagi sekitar pukul 08.00 WIB di kawasan Labuah Barulak, Nagari Sinuruik. Saat itu sejumlah warga tengah memanen padi di area persawahan.
Tiba-tiba seekor beruang muncul dari arah semak-semak dan langsung menyerang warga yang berada di lokasi. Akibat insiden tersebut, tiga orang mengalami luka-luka, yakni Aidil Putra (20), Sabri (65), dan Maijasman (63).
Korban segera dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis. Saat ini mereka menjalani perawatan di RSUD Pasaman Barat dan Puskesmas Talu.
Antonius menyebut kondisi di lapangan mulai terkendali. Tim BKSDA bersama pemerintah nagari dan warga masih melakukan pemantauan serta penelusuran jejak satwa tersebut.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati dan menghindari aktivitas sendirian di area perkebunan maupun persawahan untuk sementara waktu.
“Kami meminta warga meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor jika kembali melihat keberadaan beruang,” katanya.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan keselamatan warga sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem, mengingat konflik antara manusia dan satwa liar perlu ditangani secara terukur dan profesional.