Selasa, 27 Januari 2026

Badan Geologi Wanti-wanti Longsor Susulan di Cisarua Bandung Barat, Warga Diminta Siaga


  • Minggu, 25 Januari 2026 | 20:00
  • | News
 Badan Geologi Wanti-wanti Longsor Susulan di Cisarua Bandung Barat, Warga Diminta Siaga Bencana tanah longsor terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat. ANTARA/HO-Humas Kementerian ESDM

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Ancaman longsor susulan masih membayangi wilayah Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat. Badan Geologi di bawah Kementerian ESDM mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi panjang.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2025) dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sebelum dan saat kejadian.

Menurutnya, hujan lebat menyebabkan tekanan air di dalam tanah meningkat sehingga kekuatan geser tanah menurun. Kondisi ini membuat lereng kehilangan kestabilan dan akhirnya mengalami longsor.

Tak hanya faktor cuaca, karakter geologi setempat juga memperbesar risiko. Wilayah Pasirlangu didominasi batuan gunung api tua yang telah lapuk, memiliki kemiringan lereng cukup curam, serta dilalui rekahan dan sesar geologi yang memperlemah struktur tanah.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), kawasan terdampak masuk kategori Zona Kerentanan Menengah. Pada zona ini, gerakan tanah berpotensi muncul kembali, terutama pada lereng yang telah terganggu oleh proses alam maupun aktivitas manusia, khususnya saat hujan deras berlangsung lama.

Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, ditambah sistem drainase permukaan yang belum optimal, turut menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut.

“Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kemiringan lereng yang curam, batuan vulkanik yang sudah lapuk, struktur geologi, serta curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas,” jelas Lana.

Tim Tanggap Darurat Diterjunkan

Pascakejadian, Badan Geologi langsung mengerahkan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana. Tim melakukan pemeriksaan lapangan untuk mengidentifikasi penyebab gerakan tanah sekaligus menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak seluas sekitar 30 hektare.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Hadi Wijaya, mengatakan tim sudah berada di lokasi dan mulai melakukan kajian lapangan secara menyeluruh.Tim yang berjumlah 10 orang—terdiri dari personel teknis dan nonteknis—juga akan melakukan sosialisasi kepada warga mengenai kondisi gerakan tanah yang telah terjadi, sebagai bagian dari upaya mitigasi agar risiko serupa tidak terulang.

Wilayah terdampak diketahui merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup tinggi. Karena itu, Badan Geologi meminta warga yang tinggal di sekitar lereng curam untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Masyarakat di sekitar lereng diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan deras, karena potensi gerakan tanah susulan masih tinggi,” tegas Lana dikutip Antara.

Dalam proses penanganan bencana, Badan Geologi juga menekankan pentingnya keselamatan petugas di lapangan. Penanganan longsoran maupun pencarian korban disarankan tidak dilakukan saat atau setelah hujan deras, mengingat risiko longsor susulan masih mengancam dan dapat membahayakan petugas.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru