Loading
Prof Tjandra Yoga Aditama—mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, sekaligus Adjunct Professor Griffith University. (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Amerika Serikat resmi keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) per Kamis, 22 Januari 2026. Keputusan tersebut mengacu pada Keputusan Presiden nomor 14155 yang dirilis pada 20 Januari 2025.
Menanggapi hal itu, Prof Tjandra Yoga Aditama—mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, sekaligus Adjunct Professor Griffith University—menyebut ada tiga dampak besar bagi kesehatan global yang perlu diantisipasi oleh WHO maupun Indonesia.
1) Dampak pada Pendanaan Program Kesehatan Global
Menurut Prof Tjandra, Amerika Serikat selama ini memiliki posisi penting dalam pendanaan WHO dan sejumlah unit internasional lain seperti GFATM dan GAVI. Dengan keluarnya AS, WHO perlu bergerak cepat dalam dua langkah utama:
Efisiensi tersebut dapat dilakukan lewat penyederhanaan struktur organisasi, termasuk penggabungan beberapa direktorat.
Bagi Indonesia, Prof Tjandra menilai tidak ada pilihan lain selain memastikan negara hadir melalui pembiayaan program kesehatan yang sebelumnya ditopang pendanaan internasional yang terhubung dengan AS. Karena itu, APBN dan APBD didorong tetap menempatkan kesehatan masyarakat sebagai prioritas.
2) Pengaruh terhadap Riset dan Analisis Ilmiah Kesehatan Masyarakat
Dampak kedua menyangkut riset dan analisis ilmiah. Prof Tjandra mengingatkan, lembaga-lembaga kesehatan Amerika seperti CDC dan NIH selama ini berperan besar dalam menyediakan data dan rujukan global bereputasi.
Meski demikian, ia berharap kerja sama ilmiah tetap dapat berlangsung walau AS tidak lagi berada di dalam WHO. Alternatifnya, WHO dapat memperluas kolaborasi dengan badan regional seperti European CDC dan African CDC.
Untuk Indonesia, Prof Tjandra menekankan pentingnya pemerintah memberi porsi besar terhadap riset kesehatan masyarakat. Apalagi presiden disebut telah mencanangkan penambahan anggaran riset 4T, yang diharapkan juga menyasar riset kesehatan demi kepentingan masyarakat luas.
3) Relasi Kesehatan Lintas Negara Berpotensi Berubah Menjadi Bilateral
Dampak ketiga berkaitan dengan besarnya populasi Amerika yang hampir 350 juta jiwa serta kuatnya pengaruh industri global AS. Prof Tjandra menilai kontak masyarakat dan perusahaan Amerika dengan berbagai negara akan terus tinggi—bukan hanya berdampak pada ekonomi, sosial, industri, dan politik, namun juga pada aspek kesehatan masyarakat.
Dengan keluarnya AS dari WHO, hubungan dan pengaturan isu kesehatan lintas negara berpotensi bergeser menjadi kerja sama bilateral, atau kerja sama AS dengan kawasan tertentu seperti ASEAN. Kondisi ini, menurut Prof Tjandra, memerlukan pengaturan yang lebih rapi dan terukur agar aspek kesehatan publik tetap terjaga.