Selasa, 20 Januari 2026

BPBD DKI Tegaskan Operasi Modifikasi Cuaca Bukan untuk Hentikan Hujan


  • Sabtu, 17 Januari 2026 | 15:30
  • | News
 BPBD DKI Tegaskan Operasi Modifikasi Cuaca Bukan untuk Hentikan Hujan Petugas BPBD DKI saat memasukkan bahan semai berupa garam atau NaCl untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jakarta, Jumat (16/1/2026). ANTARA/HO-BPBD DKI

JAKARTA ARAHKITA.COM  - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak bertujuan menghentikan hujan di Jakarta, melainkan mengalihkan lokasi turunnya hujan agar tidak jatuh di wilayah daratan.

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, menjelaskan bahwa hujan merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya.

“Kita tidak bisa menghentikan hujan. Yang bisa dilakukan adalah mengalihkan lokasi turunnya hujan,” ujar Mohammad Yohan saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Awan Hujan Dialihkan ke Laut

Yohan menerangkan, dalam pelaksanaan OMC, pesawat akan memantau dan mengejar awan hujan yang masih berada di atas laut. Setelah itu, dilakukan penyemaian garam agar hujan turun lebih dulu di wilayah perairan.

“Seperti kemarin, sasaran kita di Selat Sunda. Awan-awan yang berpotensi masuk ke Jawa Barat dan Jakarta kita luruhkan di atas laut,” jelasnya, seperti yang dikutip dari Antara.

 Seluruh proses OMC dilakukan berdasarkan perhitungan ilmiah dan koordinasi bersama BMKG serta BNPB, sehingga pelaksanaannya tetap sesuai kaidah keselamatan dan lingkungan.

Dipastikan Aman bagi Lingkungan

Yohan memastikan tidak ada dampak negatif terhadap alam dari pelaksanaan OMC. Menurutnya, modifikasi cuaca bukanlah upaya melawan alam, melainkan memanfaatkan prinsip ilmiah yang sudah ada.

"OMC ini juga bagian dari ilmu pengetahuan. Energi hujan itu tidak bisa dihilangkan, hanya dialihkan. Jadi tidak ada dampak buruk terhadap lingkungan,” tegas Yohan.

OMC Dilakukan Selama Lima Hari

Pada Jumat (16/1/2026), BPBD DKI Jakarta telah memulai OMC sebagai langkah antisipasi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi dengan menaburkan 1,6 ton garam (NaCl). Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 16 hingga 20 Januari 2026.

Operasi ini dilaksanakan secara terpadu bersama BMKG dan TNI Angkatan Udara, dengan pusat kegiatan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, menggunakan pesawat CASA 212 A-2105 milik TNI AU.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, menyampaikan bahwa pada hari pertama dilakukan dua kali penerbangan (sorti).

“Sorti pertama dilakukan pukul 13.28–14.48 WIB dengan penyemaian 800 kilogram NaCl di ketinggian 8.000 hingga 12.000 kaki,” kata Isnawa.

Ia menambahkan, sorti kedua dilaksanakan pada pukul 15.40–17.30 WIB di ketinggian sekitar 9.000 kaki dengan jumlah bahan semai yang sama, yakni 800 kilogram.

Langkah ini difokuskan pada wilayah perairan Selat Sunda agar hujan turun di laut dan tidak menambah beban wilayah daratan Jakarta.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru