Loading
Menyusutnya Jumlah Satwa Liar Membuat Nyamuk Lebih Agresif Menggigit Manusia. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Nyamuk, yang dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di bumi, kini semakin sering menggigit manusia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati membuat nyamuk kekurangan inang alami untuk menghisap darah, sehingga manusia menjadi sasaran utama.
Temuan ini berasal dari Hutan Atlantik Brasil, salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Para peneliti menemukan bahwa nyamuk di wilayah tersebut kini jauh lebih sering menghisap darah manusia dibandingkan satwa liar, bahkan di dalam area hutan lindung.
Para ilmuwan menilai perubahan perilaku ini berkaitan erat dengan hilangnya habitat. Deforestasi dan meningkatnya aktivitas manusia telah menyusutkan ekosistem hutan, menyebabkan banyak spesies hewan menghilang. Akibatnya, nyamuk kehilangan sumber darah alaminya dan semakin mendekat ke permukiman manusia.
Penulis senior studi dari Institut Oswaldo Cruz di Rio de Janeiro, Jeronimo Alencar, dilansir The Independent, mengatakan spesies nyamuk yang ditangkap di sisa-sisa Hutan Atlantik menunjukkan preferensi yang jelas terhadap darah manusia. Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan mengingat wilayah tersebut sebelumnya memiliki banyak pilihan inang vertebrata.
Sergio Machado dari Universitas Federal Rio de Janeiro menambahkan bahwa preferensi nyamuk terhadap manusia secara signifikan meningkatkan risiko penularan patogen. Semakin sering nyamuk menggigit manusia, semakin besar peluang penyebaran penyakit menular.
Untuk mengetahui sumber darah nyamuk, para peneliti menangkap serangga tersebut dari dua kawasan cagar alam di negara bagian Rio de Janeiro. Di laboratorium, darah dari nyamuk betina yang baru saja makan dianalisis menggunakan teknik sekuensing DNA untuk mengidentifikasi inangnya.
Dari 1.714 nyamuk yang dipelajari, sebanyak 145 diketahui baru saja menghisap darah. Sumber darah berhasil diidentifikasi pada 24 nyamuk, yang berasal dari 18 manusia, enam burung, satu amfibi, satu anjing, dan satu tikus. Beberapa nyamuk bahkan diketahui menghisap darah dari lebih dari satu spesies.
Machado menjelaskan bahwa dengan semakin terbatasnya pilihan alami, nyamuk terpaksa mencari sumber darah alternatif yang lebih mudah diakses. Dalam kondisi tersebut, manusia menjadi inang paling umum di wilayah yang telah terdegradasi.
Hutan Atlantik sebelumnya membentang di sepanjang sebagian besar pesisir Brasil dan menjadi habitat ratusan spesies burung, mamalia, reptil, dan amfibi. Kini, hanya sekitar sepertiga dari luas aslinya yang masih tersisa, memperlihatkan skala kerusakan ekosistem yang terjadi.
Nyamuk di kawasan ini diketahui membawa berbagai virus berbahaya, termasuk penyebab demam kuning, demam berdarah, chikungunya, Zika, Mayaro, dan Sabiá. Para peneliti memperingatkan bahwa meningkatnya interaksi antara nyamuk dan manusia dapat memperbesar risiko wabah penyakit di masa depan.
Studi ini juga menyoroti keterbatasan data yang ada. Kurang dari tujuh persen nyamuk yang ditangkap baru saja menghisap darah, dan sumber darah hanya dapat diidentifikasi pada sekitar 38 persen sampel. Analisis darah campuran pun masih menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, para peneliti menilai temuan ini penting untuk upaya pencegahan penyakit. Mengetahui bahwa nyamuk di suatu wilayah memiliki preferensi kuat terhadap manusia dapat menjadi peringatan dini akan potensi penularan.
Alencar menegaskan bahwa temuan ini memungkinkan pengawasan yang lebih terarah dan tindakan pencegahan yang lebih efektif. Dalam jangka panjang, strategi pengendalian nyamuk diharapkan tidak hanya berfokus pada manusia, tetapi juga mempertimbangkan pemulihan keseimbangan ekosistem.