Loading
Ilustrasi - Sejumlah pesawat lepas landas dari kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (ANTARA/Azmi Samsul M)
TANGERANG, ARAHKITA.COM – Bagi Anda yang memiliki jadwal terbang menuju Jakarta pada Senin pagi tadi, mungkin sempat merasakan durasi terbang yang lebih lama atau guncangan di atas awan. Hal ini bukan tanpa alasan. Cuaca ekstrem yang mengepung wilayah Tangerang dan sekitarnya memaksa Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) mengaktifkan prosedur darurat demi keselamatan nyawa penumpang.
AirNav Indonesia melaporkan bahwa antara pukul 05.00 hingga 10.00 WIB, hujan deras membuat jarak pandang (visibility) merosot tajam hingga di bawah 1.000 meter. Padahal, angka tersebut adalah batas aman minimal bagi pesawat untuk menyentuh landasan pacu secara presisi.
"Kalau dipaksakan untuk terus mendarat, itu sangat membahayakan," tegas Hermana Soegijantoro, EVP Corporate Secretary AirNav Indonesia dalam keterangan resminya.
Antrean di Langit dan Pengalihan Rute
Situasi pagi tadi sempat membuat langit Jakarta cukup padat. Tercatat ada sekitar 15 pesawat yang harus melakukan pola antrean di udara (holding) dengan durasi berkisar antara 40 menit hingga satu jam.
Namun, karena cuaca tak kunjung membaik, sebanyak 16 pesawat akhirnya mengambil keputusan besar untuk mendarat di bandara alternatif (divert). Pesawat-pesawat tersebut terpaksa "mengungsi" ke berbagai kota terdekat demi keamanan, di antaranya: Semarang & Solo: 5 Pesawat
Keselamatan adalah Harga Mati
Keputusan untuk membatalkan pendaratan (go-around) atau mendarat di kota lain bukanlah tanda kepanikan, melainkan prosedur baku internasional yang diatur dalam UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan regulasi ICAO.
Meski petugas ATC (Air Traffic Control) memberikan data cuaca dan navigasi secara intensif, keputusan akhir tetap berada di tangan Pilot (Pilot in Command). Demi meminimalisir kepadatan di langit Jakarta, AirNav bahkan sempat menerapkan sistem ground delay—yakni menunda keberangkatan pesawat dari bandara asal.
Saat ini, AirNav terus berkoordinasi secara real-time dengan BMKG untuk memantau pergerakan cuaca. Jadi, jika penerbangan Anda hari ini mengalami keterlambatan, ingatlah bahwa petugas navigasi dan pilot sedang bekerja keras memastikan Anda mendarat dengan selamat, bukan sekadar tepat waktu.