Loading
Arsip - Gunung Marapi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan Gunung Marapi di Provinsi Sumatera Barat selama periode 16–31 Desember 2025. Kenaikan ini terutama terjadi pada gempa yang bersumber dari dekat permukaan gunung.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan peningkatan aktivitas tersebut perlu mendapat perhatian karena menunjukkan perubahan dinamika internal gunung api.
“Dalam dua minggu terakhir, kegempaan Gunung Marapi cenderung meningkat, khususnya pada gempa-gempa dangkal yang terjadi di dekat permukaan,” ujar Lana Saria dalam keterangan tertulis yang diterima di Padang, Selasa (6/1/2026).
Lonjakan Gempa Hembusan dan Vulkanik
Badan Geologi mencatat lonjakan signifikan pada beberapa jenis gempa. Gempa hembusan meningkat drastis dari 28 kejadian menjadi 279 kejadian. Sementara itu, tremor non-harmonik naik dari 78 menjadi 132 kejadian.
Selain itu, jumlah gempa vulkanik dangkal meningkat dari lima menjadi 14 kali, gempa vulkanik dalam bertambah dari 11 menjadi 14 kali, dan gempa tektonik lokal naik dari 31 menjadi 54 kejadian.
“Data kegempaan saat ini mengindikasikan adanya peningkatan pasokan fluida ke dalam sistem gunung api,” jelas Lana, seperti yang dikutip dari Antara.
Tekanan di Tubuh Gunung Kian Besar
Meski terjadi peningkatan pasokan fluida, Lana menjelaskan bahwa tekanan tersebut sebagian besar dilepaskan melalui aktivitas hembusan yang meningkat. Sementara itu, amplitudo seismik yang terekam secara real time masih berfluktuasi di sekitar nilai normal atau baseline.
Namun, dalam dua pekan terakhir, variasi kecepatan seismik menunjukkan kecenderungan menurun menjauhi nol dengan simpangan yang cukup besar. Nilai koherensi juga tercatat rendah, yakni di bawah 0,6.
“Kondisi ini menandakan tekanan pada tubuh gunung api bagian dangkal cukup besar dan medium batuannya berada dalam kondisi kurang stabil,” kata Lana.
Ia mengingatkan bahwa situasi tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya erupsi.
“Dengan kondisi seperti ini, potensi terjadinya erupsi Gunung Marapi menjadi lebih tinggi,” ujarnya.
Emisi Gas Masih Relatif Rendah
Dari sisi deformasi, pemantauan tiltmeter hingga saat ini belum menunjukkan adanya inflasi signifikan pada tubuh gunung api. Sementara itu, emisi gas Sulfur Dioksida (SO₂) sering kali tidak terdeteksi oleh satelit Sentinel.
Menurut Badan Geologi, kondisi tersebut kemungkinan disebabkan oleh tutupan awan, hujan, kabut, atau memang rendahnya gas yang dilepaskan. Pengukuran terakhir pada 29 Desember 2025 menunjukkan emisi SO₂ sebesar 51 ton per hari, yang masih tergolong rendah.